sukabumimetro.com/ – Pasca gelaran seni ketangkasan domba Garut di Stadion Suryakencana Kota Sukabumi, ternyata menyisakan persoalan kebersihan lingkungan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi memperkirakan, sekitar 2 ton sampah dihasilkan dari kegiatan yang berlangsung pada 25 Oktober 2026 tersebut.
Kepala DLH Kota Sukabumi, Yudi Sutriana menyebutkan, penanganan sampah pasca acara menjadi bagian penting untuk memastikan area kegiatan kembali bersih dan sampah tidak dibiarkan menumpuk.
“Berdasarkan perkiraan sementara, sampah yang terkumpul terdiri atas sampah organik sekitar 1.000 kilogram atau 50 persen, sampah anorganik 600 kilogram atau 30 persen, serta sampah residu sekitar 400 kilogram atau 20 persen,” ujarnya.
Ia menyebut, komposisi tersebut menunjukkan sampah yang dihasilkan tidak hanya berupa sisa makanan dan dedaunan, tetapi juga botol plastik, gelas plastik, kemasan, tisu kotor, serta sampah campuran yang sulit didaur ulang. Kondisi ini membuat pemilahan menjadi langkah penting, agar sampah yang masih memiliki nilai ekonomis tidak langsung berakhir di tempat pemrosesan akhir.
“Penanganan sampah setelah kegiatan harus dilakukan dengan baik. Sampah perlu dipilah berdasarkan jenisnya agar material yang masih bisa dimanfaatkan tidak tercampur dengan residu,” ujar Yudi Sutriana.
DLH menerapkan penanganan berdasarkan karakteristik sampah. Material anorganik yang masih memiliki nilai ekonomis dipisahkan untuk dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang. Sementara itu, sampah organik yang memenuhi persyaratan dapat diolah lebih lanjut, sedangkan residu dan sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Menurut Yudi, kebersihan lokasi setelah kegiatan berlangsung tidak semestinya hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan. Kesadaran pengunjung dan penyelenggara untuk mengurangi sampah serta membuangnya sesuai jenis juga diperlukan agar beban penanganan sampah dapat ditekan.
“Menjaga kebersihan bukan hanya soal membersihkan lokasi setelah acara selesai, tetapi juga bagaimana sampah yang dihasilkan bisa dikelola secara bertanggung jawab sejak awal. Peran masyarakat dan penyelenggara sangat dibutuhkan,” tegasnya.
Perkiraan timbulan sampah hingga 2 ton tersebut menjadi pengingat kegiatan yang melibatkan banyak orang perlu diikuti pengelolaan sampah yang terencana. Penyediaan tempat sampah terpilah, pengurangan penggunaan kemasan sekali pakai, serta pemilahan sejak sumber dapat membantu menekan volume sampah yang harus diangkut ke TPA.
“Kami terus mendorong pengelolaan sampah yang tidak berhenti pada kegiatan pengangkutan dan pembersihan. Pemilahan, pemanfaatan kembali, serta pengolahan sesuai jenisnya menjadi bagian penting untuk menjaga kebersihan ruang publik sekaligus mengurangi beban penanganan sampah di Kota Sukabumi,” pungkasnya. (ris)



