Kota Sukabumi

Kader PKK Kota Sukabumi Didorong Jadi Pelopor Pengelolaan Sampah

×

Kader PKK Kota Sukabumi Didorong Jadi Pelopor Pengelolaan Sampah

Sebarkan artikel ini
PKK Kota Sukabumi

SUKABUMI – Persoalan sampah kini menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Bukan hanya pemerintah dan petugas kebersihan, tetapi juga masyarakat dari lingkungan paling kecil, termasuk keluarga. Pesan itu disampaikan Ketua TP-PKK Kota Sukabumi, Ranty Rachmatillah saat membuka kegiatan Peningkatan Kapasitas Kader PKK dan Posyandu Kelurahan Dayeuhluhur.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Kelurahan Dayeuh Luhur tersebut menjadi momentum untuk memperkuat peran kader dalam kehidupan masyarakat. Para kader tidak hanya dituntut aktif dalam urusan pemberdayaan keluarga dan kesehatan, tetapi juga diharapkan mampu menjadi penggerak dalam menjaga lingkungan.

Ranty secara khusus mengimbau kader PKK dan Posyandu agar tampil sebagai pelopor pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing. “Kader PKK dan Posyandu harus bisa menjadi pelopor dalam pengelolaan sampah di masyarakat,” kata Ranty kepada Radar Sukabumi, Selasa (22/9).

Menurutnya, persoalan sampah saat ini sudah berada dalam kondisi yang perlu mendapat perhatian serius. Terlebih, daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cikundul disebut telah mencapai kapasitas maksimal. “Sekarang kondisi pengelolaan sampah sedang tidak baik. Daya tampung TPA Cikundul juga sudah mencapai kapasitas maksimum,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjut Ranty, membutuhkan perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat. Sampah tidak seharusnya seluruhnya dikumpulkan dan dibawa ke tempat pembuangan akhir, melainkan perlu dikurangi dan dipilah sejak awal. “Salah satu strategi utama untuk memperbaiki pengelolaan sampah adalah melakukan pemilahan dan pemilihan sampah sejak dari sumbernya,” ungkapnya.

Menurut Ranty, rumah tangga menjadi titik awal yang sangat penting. Ketika sampah sudah dipisahkan sejak dari rumah, proses pengelolaan berikutnya akan menjadi lebih mudah dan volume sampah yang dibawa ke tempat pembuangan akhir pun dapat ditekan. Selain pemilahan sampah, ia juga mengingatkan masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai. “Penggunaan kantong plastik sekali pakai harus diminimalisir sebagai salah satu upaya mengurangi volume sampah,” tuturnya.

Ranty berharap, pesan tersebut tidak berhenti di dalam kegiatan peningkatan kapasitas kader. Sebaliknya, para kader diharapkan membawa pengetahuan dan kepedulian tersebut ke tengah-tengah masyarakat. “Saya berharap para kader bisa secara konsisten melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah,” paparnya.

Ia menilai, kader memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat. Edukasi yang dilakukan secara terus-menerus diharapkan dapat mengubah kebiasaan masyarakat secara perlahan, mulai dari cara membuang, memilah hingga mengurangi sampah. “Jangan hanya berhenti pada kegiatan hari ini. Edukasinya harus terus dilakukan kepada masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Lurah Dayeuhluhur, Supardi mengatakan, kegiatan peningkatan kapasitas tersebut juga diarahkan untuk memasifkan gerakan pemilahan dan pemilihan sampah di wilayahnya. “Tujuan kegiatan ini salah satunya untuk memasifkan upaya pemilahan dan pemilihan sampah dalam rangka mengurangi timbunan sampah,” timpalnya.

Menurut Supardi, upaya tersebut secara perlahan sudah mulai diterapkan di sejumlah lingkungan. Saat ini, terdapat dua RW di Kelurahan Dayeuh Luhur yang telah menerapkan pemilahan dan pemilihan sampah. “Untuk saat ini sudah ada dua RW yang menerapkan pemilahan dan pemilihan sampah, yaitu RW 1 dan RW 18,” ungkapnya.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjalankan pengelolaan sampah. Tidak hanya kader atau kelompok tertentu, tetapi berbagai unsur di lingkungan masyarakat dapat mengambil peran sesuai dengan kemampuannya. “Ada yang dilakukan pengelolaan sampahnya oleh ibu-ibu, ada juga yang dilaksanakan oleh anggota Satlinmas,” tandasnya.

Langkah yang dilakukan di RW 1 dan RW 18 tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi lingkungan lainnya. Sebab, persoalan sampah tidak akan selesai hanya dengan mengandalkan petugas pengangkut sampah. Dibutuhkan perubahan dari hulu, yakni sejak sampah dihasilkan oleh rumah tangga. “Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dipilah dan dikelola, sementara penggunaan barang sekali pakai secara berlebihan perlahan dikurangi,” cetusnya.

Di tengah kondisi TPA Cikundul yang telah mencapai kapasitas maksimum, gerakan dari tingkat keluarga menjadi semakin penting. Setiap sampah yang berhasil dikurangi dan setiap sampah yang berhasil dipilah berarti turut mengurangi beban yang harus ditanggung tempat pemrosesan akhir. Karena itu, kegiatan peningkatan kapasitas kader di Dayeuhluhur tidak sekadar menjadi agenda seremonial. “Ada pesan yang lebih besar untuk dibawa pulang para kader bahwa persoalan sampah dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah dan dapat berubah menjadi gerakan bersama ketika dilakukan secara konsisten,” pungkasnya. (Bam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *