Tak ada kesan kaku seperti yang selama ini identik dengan kantor penyelenggara pemilu. Di salah satu sudut Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Sukabumi, suasana kafe justru terasa lebih menonjol. Meja pelayanan ditata menyerupai tempat memesan kopi, petugas berjaga layaknya barista, sementara buku menu berisi daftar layanan menjadi panduan bagi pengunjung yang ingin mencari informasi seputar kepemiluan.
Namun, yang disajikan di tempat ini bukan sekadar minuman, melainkan akses informasi dan pelayanan publik. KPU Kota Sukabumi menghadirkan Kafe Pelayanan sebagai ruang yang dirancang untuk mendekatkan lembaga penyelenggara pemilu dengan masyarakat, sekaligus menghilangkan kesan bahwa mengakses data dan informasi kepemiluan merupakan sesuatu yang rumit.
Sekretaris KPU Kota Sukabumi, Azhar Hidayatullah menjelaskan, Kafe Pelayanan merupakan penyempurnaan dari ruang yang sebelumnya digunakan sebagai podium. Konsep baru tersebut dirancang untuk mengintegrasikan berbagai layanan KPU, baik yang diakses secara langsung di kantor maupun melalui sistem digital.
“Ini namanya Kafe Pelayanan. Satu spot untuk melayani seluruh layanan yang ada di KPU. Jadi, bisa dilakukan secara digital atau online, tetapi masyarakat juga bisa datang langsung ke KPU untuk menikmati layanan-layanan yang tersedia,” kata Azhar.
Konsep kafe dipilih bukan tanpa alasan. Di tengah menjamurnya tempat nongkrong di berbagai sudut Kota Sukabumi, KPU ingin menghadirkan ruang pelayanan yang lebih santai dan tidak membuat masyarakat sungkan untuk datang. Sebab, bagi sebagian orang, kantor penyelenggara pemilu masih identik dengan urusan birokrasi, dokumen, dan informasi yang terasa sulit dijangkau.
“Biar tidak terlalu kaku. Mudah-mudahan masyarakat jadi tidak canggung datang ke KPU. Biasanya ada yang takut-takut datang, khawatir tidak diterima atau tidak diberikan data. Insya Allah, kalau datanya tersedia sebagai bagian dari layanan kami, semuanya gratis,” ujarnya.
Di dalam Kafe Pelayanan, pengunjung tidak hanya mengandalkan penjelasan petugas. Tersedia buku menu yang memuat ragam layanan KPU, sehingga masyarakat dapat mengenali kebutuhan informasinya sebelum menentukan layanan yang ingin diakses. Petugas pun siap mendampingi pengunjung, termasuk mereka yang belum terbiasa menggunakan fasilitas digital.
Salah satu perangkat yang menarik perhatian ialah Anjungan Data Mandiri (ADM). Bentuknya menyerupai mesin anjungan tunai mandiri (ATM), tetapi fungsinya bukan untuk menarik uang.
Perangkat ini menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk menelusuri informasi kepemiluan dan mengakses layanan yang tersedia. Pengunjung juga dapat membuat akun agar layanan tertentu bisa digunakan kembali melalui gawai secara daring, dengan pendampingan petugas jika diperlukan.
Selain menyediakan akses informasi, Kafe Pelayanan juga membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan evaluasi melalui kotak kritik dan saran. Dengan demikian, pelayanan tidak hanya berjalan satu arah, tetapi turut memberi kesempatan kepada publik untuk menyampaikan masukan terhadap kualitas layanan yang diberikan.
Ada lima kelompok layanan utama yang mencakup urusan keuangan, umum, logistik, sosialisasi dan partisipasi masyarakat, serta pendidikan pemilih, termasuk layanan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID).
“Layanan tersebut dibagi berdasarkan kebutuhan pengguna, yakni layanan internal untuk KPU, layanan bagi badan ad hoc, serta layanan eksternal yang ditujukan kepada publik,” jelasnya.
Untuk memperluas akses, KPU Kota Sukabumi juga mengembangkan portal super.kpukotasukabumi.com. Portal tersebut menjadi bagian dari SUPER, singkatan dari “Sukabumi Urban Politics and Electoral Desert”, yang dikembangkan seiring upaya KPU melakukan riset mengenai tata kelola pemilu.
Menurut Azhar, pengembangan sistem digital itu telah menghasilkan 16 layanan aplikasi yang menyasar kebutuhan internal, badan ad hoc, maupun masyarakat umum. Pengembangan tersebut diharapkan membuat akses terhadap informasi kepemiluan semakin mudah tanpa harus selalu datang langsung ke kantor.
“Sampai saat ini dalam poratal itu telah mencatat 224.083 kunjungan halaman, sementara jumlah pengguna yang membuat akun mencapai 409. Angka itu menjadi gambaran awal pemanfaatan layanan digital KPU Kota Sukabumi, meskipun jumlah kunjungan halaman tidak serta-merta menunjukkan jumlah pengguna unik,” ungkapnya.
Salah satu layanan yang dapat dimanfaatkan masyarakat adalah PADU atau Peta Agregasi Data Pemilu. Aplikasi ini menyajikan data hasil pemilu berdasarkan tempat pemungutan suara (TPS), lengkap dengan titik koordinat serta agregasi datanya. Informasi tersebut dapat membantu masyarakat menelusuri data pemilu secara lebih terperinci dan berbasis lokasi.
Azhar menilai, kebutuhan terhadap data kepemiluan berpotensi meningkat ketika tahapan pemilu semakin dekat. Karena itu, keterbukaan informasi dan kemudahan akses menjadi bagian penting dari upaya membangun hubungan yang lebih dekat antara penyelenggara pemilu dan masyarakat.
Kafe Pelayanan pada akhirnya bukan sekadar perubahan tampilan ruang kantor. Di balik meja yang menyerupai kafe, buku menu, dan ADM, terdapat upaya mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan lembaga penyelenggara pemilu. Ukuran keberhasilannya bukan hanya seberapa menarik konsep ruang tersebut, melainkan sejauh mana warga merasa mudah memperoleh informasi, memahami data pemilu, dan berani menyampaikan masukan.
“Harapannya masyarakat bisa lebih mudah mengakses layanan yang ada di KPU. Kalau informasi yang dibutuhkan tersedia, silakan datang. Kami ingin pelayanan ini lebih terbuka dan tidak membuat masyarakat merasa sungkan,” pungkas Azhar. (*)

