sukabumimetro.com/ – Beasiswa untuk 333 mahasiswa, anggaran pemberdayaan warga Rp8,9 miliar hingga subsidi calon pekerja migran menjadi bagian dari program unggulan Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi di bawah kepemimpinan Wali Kota, Ayep Zaki dan Wakil Wali Kota, Bobby Maulana. Namun, memasuki tahun kedua kepemimpinan, tantangan pembangunan masih menanti, salah satunya revitalisasi Stadion Suryakencana.
Program Beasiswa Bercahaya menjadi salah satu sorotan, karena menyentuh langsung kebutuhan masyarakat di bidang pendidikan. Pada 2026, Pemkot Sukabumi mengalokasikan anggaran Rp1.073.250.000 untuk membiayai pendidikan 333 mahasiswa asal Kota Sukabumi. Anggaran tersebut diperkirakan meningkat pada 2027.
Program ini bukan sekadar membantu mahasiswa membiayai kuliah, melainkan juga menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Akses pendidikan yang lebih luas dinilai penting untuk membuka peluang kerja dan mendorong mobilitas ekonomi masyarakat.
Kepala Bidang Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah (PPED), Asep Supriadi mengatakan, evaluasi tahun kedua kepemimpinan kepala daerah perlu melihat perkembangan program unggulan sekaligus berbagai kendala yang menghambat pelaksanaan pembangunan.
“Selain sektor pendidikan, Pemkot Sukabumi mengembangkan dukungan bagi guru ngaji, marbot, guru madrasah, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Program tersebut menyasar kelompok yang memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan perputaran ekonomi masyarakat,” kata Asep saat disambangi Radar Sukabumi di ruang kerjanya, Kamis (22/10).
Di tingkat kewilayahan, pemerintah mengalokasikan Rp8,9 miliar untuk Program Pemberdayaan Rukun Warga (P2RW). Anggaran ini diarahkan untuk mendukung kebutuhan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di lingkungan RW. “Sementara itu, calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) memperoleh subsidi Rp2,5 juta sebagai dukungan bagi warga yang akan bekerja di luar negeri,” ujarnya.
Meski demikian, besarnya anggaran dan beragamnya program perlu diikuti evaluasi terhadap manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari jumlah penerima bantuan atau anggaran yang terserap, tetapi juga dari dampaknya terhadap peningkatan kesejahteraan, kesempatan kerja, dan kualitas hidup warga,” paparnya.
Di sisi lain, revitalisasi Stadion Suryakencana masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian serius. Rencana pembenahan stadion tersebut menghadapi tantangan pendanaan, keterbatasan lahan, aksesibilitas, potensi kemacetan, serta kondisi fasilitas yang perlu dievaluasi secara menyeluruh. Pemkot Sukabumi masih perlu menjajaki dukungan pendanaan dari pihak ketiga dan menyiapkan perencanaan teknis, termasuk kebutuhan konsultan agar rancangan revitalisasi memenuhi standar nasional yang dituju.
“Kesiapan akses kendaraan dan kelayakan fasilitas juga menjadi faktor penting sebelum rencana tersebut dapat direalisasikan,” pungkasnya. (bam)



