Oleh: Hasim Adnan
Direktur NLA (National Leadership Academy) dan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat
Rabu (21/10/26) sehari sebelum tanggal peringatan Hari Santri, seorang jurnalis yang juga kolega penulis, mengirim pesan yang isinya meminta refleksi tentang Hari Santri 2026. Menariknya, ada permintaan agar sudut pandang tulisan bisa difokuskan terhadap masa depan santri dan bagaimana semestinya negara/pemerintah daerah memberdayakan santri.
Dua hari sebelumnya, menjelang pergantian hari, tepatnya Senin malam (19/10/26), ada pesan masuk dari nomor yang penulis tidak kenal. Isinya undangan menghadiri PERAYAAN HARI SANTRI NASIONAL SELURUH TOKOH SE-JAWA BARAT & GUS AWARD yang diselenggarakan oleh Imam Jazuli Foundation.
Sepintas, mungkin dua rangkaian peristiwa di atas tidak ada kaitannya dengan tulisan ini. Tapi bagi penulis, keduanya menjadi sesuatu yang menginspirasi lahirnya tulisan ini, yang dalam pandangan penulis, sepadan dengan apa yang dimintakan kepada penulis.
Sehingga tidak heran, rumusan judul dari tulisan ini menjadi: “Santri Masa Depan dan Negara Kemandirian.” Dua entitas yang tidak boleh terpisahkan satu sama lain.

Tulisan ini juga berangkat dari pemahaman bahwa Hari Santri bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah perjuangan kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, Hari Santri adalah kesempatan untuk merefleksikan masa depan: bagaimana santri dapat mengambil peran yang lebih besar dalam membangun bangsa, dan bagaimana negara memastikan mereka memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang.
Santri memiliki modal sosial dan kultural yang kuat. Mereka tumbuh dalam tradisi keilmuan, kedisiplinan, kemandirian, kesederhanaan, serta pengabdian kepada masyarakat. Nilai-nilai ini merupakan bekal penting untuk menghadapi masa depan yang penuh perubahan.
Hal ini selaras dengan apa yang pernah disampaikan oleh Zamakhsyari Dhofier (2011) dalam bukunya, “Tradisi Pesantren,” bahwa modal yang dimiliki santri tidak hanya berupa pengetahuan agama, tetapi juga terbentuk melalui tradisi pendidikan dan kehidupan sosial pesantren.
Namun, tantangan zaman juga terus berkembang. Santri hari ini tidak hanya berhadapan dengan persoalan penguasaan ilmu agama, tetapi juga tantangan transformasi digital, perubahan dunia kerja, perkembangan kecerdasan buatan, ketimpangan ekonomi, dan persaingan global.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar bagaimana santri mempertahankan tradisi, melainkan bagaimana tradisi itu menjadi kekuatan untuk menghadapi masa depan. Santri tak boleh kehilangan akar tradisinya saat memasuki dunia modern. Sebaliknya, mereka harus mampu membawa nilai-nilai pesantren ke dalam berbagai ruang kehidupan: pendidikan, ekonomi, teknologi, politik, kebudayaan, hingga kepemimpinan publik.