Artikel

Adu Domba

×

Adu Domba

Sebarkan artikel ini

TIGA Itu bukan sekadar angka. Itu adalah rentang waktu di mana sebuah tradisi bisa hilang, bisa dilupakan, bahkan bisa dianggap tidak relevan lagi. Tetapi di Sukabumi, tradisi seni dan ketangkasan domba Garut justru kembali hadir. Seakan ingin membuktikan bahwa akar budaya tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tertidur, menunggu momentum untuk bangkit.

Di Stadion Suryakencana, Jalan Stadion, Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, ratusan pasang mata menyaksikan 175 peserta membawa domba-domba terbaik mereka. Padahal, pendaftar hampir seribuan. Artinya, gairah masyarakat terhadap tradisi ini masih sangat besar. Ada semacam kerinduan kolektif yang akhirnya menemukan salurannya.

Domba Garut bukan sekadar hewan. Ia simbol ketangkasan, kebanggaan, bahkan identitas. Di balik bobot tubuhnya—kelas A di atas 75 kilogram, kelas B di kisaran 65–75 kilogram, dan kelas C di bawah 65 kilogram—tersimpan cerita panjang tentang bagaimana masyarakat Jawa Barat membangun relasi dengan alam, dengan hewan, dan dengan tradisi.

Tradisi ini memang sering dipandang kontroversial. Ada yang menganggapnya sekadar hiburan rakyat, ada pula yang mengkritik keras. Tetapi di balik itu, ada nilai sosial yang tidak bisa diabaikan: kebersamaan. Orang-orang dari Sukabumi, Bandung, Garut, hingga Banten berkumpul, berinteraksi, dan merayakan sesuatu yang mereka anggap bagian dari diri mereka.

Kita bisa saja menilai tradisi ini dari sudut pandang modern: apakah relevan, apakah sesuai dengan nilai-nilai kekinian. Tetapi tradisi tidak pernah tunduk sepenuhnya pada logika modernitas. Ia hidup dari rasa, dari kebanggaan, dari akar budaya yang tidak bisa diputus begitu saja.

Bayangkan, hampir seribuan orang mendaftar. Panitia hanya bisa menampung 175. Itu bukan sekadar angka. Itu adalah bukti bahwa tradisi ini masih punya magnet. Magnet yang tidak bisa dijelaskan dengan teori ekonomi atau politik. Magnet yang lahir dari nostalgia, dari kebanggaan, dari identitas.

Mungkin inilah pesan terbesar dari kembalinya ketangkasan domba Garut di Sukabumi: bahwa identitas lokal tidak boleh hilang ditelan arus globalisasi. Bahwa masyarakat butuh ruang untuk merayakan dirinya sendiri. Dan bahwa sebuah kota kecil bisa menjadi panggung besar bagi tradisi yang hampir hilang.

Tiga puluh tahun tertidur. Kini ia bangun lagi. Dan siapa tahu, dari Sukabumi, tradisi ini akan kembali menemukan relevansinya di tengah masyarakat yang semakin haus akan akar budaya.(*)

Artikel

ADA yang lebih menakutkan dari sekadar tamparan fisik:…