Kota Sukabumi

Berawal dari Uang Jajan, Begini Kisah Dosen UMMI Tekuni Anggrek 25 Tahun

×

Berawal dari Uang Jajan, Begini Kisah Dosen UMMI Tekuni Anggrek 25 Tahun

Sebarkan artikel ini

sukabumimetro.com/ – Berawal dari kebiasaan menyisihkan uang jajan saat kuliah, kecintaan Neneng Kartika Rini terhadap tanaman anggrek tumbuh menjadi perjalanan panjang yang mempertemukan hobi, dunia akademik, penelitian, dan pengembangan agribisnis.

Hampir 25 tahun menekuni tanaman tersebut, ia terus memperluas pengembangan anggrek, salah satunya melalui teknologi kultur jaringan.

Ketertarikan Neneng terhadap anggrek bermula sejak masa kuliah. Saat itu, ia menyisihkan sebagian uang jajannya untuk membeli dan merawat tanaman yang menarik perhatiannya.

Aktivitas sederhana tersebut awalnya hanya dilakukan karena kesenangan pribadi, tetapi perlahan berkembang menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya, mulai dari jenjang sarjana hingga magister.

"Awalnya memang hanya hobi. Waktu kuliah, saya menyisihkan uang jajan untuk membeli anggrek dan merawatnya. Ternyata, ketertarikan itu terus berlanjut sampai sekarang dan menjadi bagian dari perjalanan saya," ungkap Neneng yang juga Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) ini kepada Radar Sukabumi, Senin (12/10).

Seiring berjalannya waktu, anggrek yang semula hanya dirawat sebagai koleksi mulai memiliki nilai ekonomi. "Tanaman tersebut kemudian diperjualbelikan, membuka pandangan baru bahwa kecintaan terhadap anggrek juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang memiliki peluang usaha," jelasnya.

Sebagai dosen Agribisnis, Neneng melihat anggrek bukan sekadar tanaman hias yang memiliki keindahan, melainkan komoditas yang menyimpan potensi pengembangan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketertarikan tersebut mendorongnya untuk terus mengeksplorasi teknik budidaya, termasuk penggunaan kultur jaringan sebagai metode perbanyakan tanaman.

"Bagi saya, anggrek bukan hanya soal hobi atau keindahan bunganya. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dan dikembangkan, mulai dari cara memperbanyak tanaman hingga bagaimana anggrek mempunyai nilai ekonomi," tuturnya.

Lanjut Neneng, kultur jaringan menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan pengembangan anggrek yang ditekuninya. Teknik bioteknologi ini memanfaatkan bagian sel atau jaringan tumbuhan yang ditumbuhkan dalam kondisi terkontrol untuk menghasilkan tanaman baru. Penerapannya membuka peluang pengembangan tanaman secara lebih terarah, sesuai dengan karakteristik yang ingin dipertahankan.

Aktivitas tersebut juga menarik perhatian kalangan pendidikan. Sejumlah sekolah dan peserta praktik pengalaman lapangan (PPL) datang untuk melihat secara langsung proses kultur jaringan, khususnya mereka yang berkaitan dengan bidang pertanian. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan penerapan bioteknologi tumbuhan melalui praktik nyata.

"Saya senang ketika ada siswa atau peserta PPL yang datang untuk melihat proses kultur jaringan. Mereka bisa belajar secara langsung bahwa ilmu yang dipelajari tidak berhenti di teori, tetapi dapat diterapkan dalam pengembangan tanaman," ujarnya.

Perjalanan panjang bersama anggrek itu turut mengantarkan Neneng dan rekan-rekannya memperoleh bantuan biaya permohonan Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) serta biaya pemeriksaan substantif atau uji BUSS pada 2026 dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

"Bantuan ditujukan untuk pengembangan varietas anggrek Vanda Srikandi Padjajaran dan Dendrobium Cakra Padjajaran. Dukungan ini juga menjadi bagian dari upaya pengembangan varietas sekaligus proses perlindungan terhadap hasil pemuliaan tanaman melalui mekanisme yang berlaku," paparnya.

Bagi Neneng, pencapaian tersebut merupakan bagian dari perjalanan yang dibangun secara bertahap. Dari merawat anggrek karena ketertarikan pribadi, ia kini terlibat dalam pengembangan yang menghubungkan aspek akademik, bioteknologi, dan agribisnis.

Ke depan, ia berharap pemanfaatan teknologi dalam pengembangan anggrek dapat terus ditingkatkan. Salah satu harapannya adalah mengembangkan teknik kloning tanaman untuk memperoleh karakteristik anggrek sesuai tujuan pengembangan.

"Ke depannya, saya berharap pengembangan anggrek ini bisa sampai pada tahap kloning. Dengan begitu, kita dapat mengembangkan tanaman anggrek dengan karakteristik yang diharapkan melalui pemanfaatan teknologi bioteknologi," tutup Neneng. (ris)