JAKARTA — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi sorotan publik setelah antrean panjang kendaraan terjadi di sejumlah SPBU di Bali. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran masyarakat, meski pemerintah menegaskan stok BBM nasional masih aman.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan antrean panjang di Bali terjadi akibat keterlambatan kapal pengangkut BBM. Gangguan distribusi membuat stok di SPBU menipis meski persediaan nasional masih berada pada kisaran 18–20 hari.
Pertamina menambahkan bahwa masalah teknis pada jangkar kapal serta cuaca buruk memperlambat proses bongkar muat. Keterlambatan beberapa jam saja dapat berdampak besar karena kebutuhan masyarakat terus berjalan setiap hari.
Selain faktor distribusi, tingginya konsumsi BBM bersubsidi seperti Pertalite juga mempercepat habisnya stok. Rata-rata konsumsi Pertalite di Bali mencapai 2.200 kiloliter per hari. Perbedaan harga dengan BBM nonsubsidi membuat masyarakat lebih memilih produk bersubsidi.
Situasi semakin diperparah oleh kepanikan masyarakat. Antrean panjang terlihat sejak 11 Oktober, diperburuk oleh kabar SPBU kehabisan stok yang memicu pembelian berlebihan. Fenomena panic buying membuat pasokan yang tersisa cepat habis.
Pertamina Patra Niaga mendatangkan tambahan BBM ke Bali pada 14–17 Oktober dengan total 57,9 juta liter. Kapal membawa 18.000 kiloliter Pertalite dan 2.500 kiloliter Pertamax melalui Terminal Sanggaran di Denpasar dan Terminal Manggis di Karangasem. Sebanyak 52 SPBU disiapkan beroperasi 24 jam untuk mengurai antrean.

