Kota Sukabumi

Mengintip Cara Pemkot Sukabumi Putus Rantai Penularan TBC

×

Mengintip Cara Pemkot Sukabumi Putus Rantai Penularan TBC

Sebarkan artikel ini

Pemerintah Kota Sukabumi terus memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) melalui pelacakan kasus secara masif dan terintegrasi. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam melindungi kesehatan masyarakat sekaligus mencegah penyebaran penyakit menular yang masih menjadi tantangan di bidang kesehatan.

BAMBANG SURYANA, SUKABUMI

Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, saat mengunjungi Kantor Kelurahan Tipar, Selasa (20/10). Dalam kunjungan itu, ia meninjau langsung pelaksanaan tracing TBC yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sekaligus menyerahkan satu unit mobil Puskesmas Keliling (Pusling) untuk mendukung pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Tipar.

Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda peninjauan program maupun penyerahan kendaraan operasional. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Sukabumi untuk memastikan pelayanan kesehatan semakin dekat dengan masyarakat, deteksi penyakit dilakukan sedini mungkin, dan warga yang membutuhkan pengobatan tidak dibiarkan menghadapi persoalan kesehatannya seorang diri.

Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki mengatakan, pemerintah daerah tengah memperkuat dua pilar utama kesejahteraan masyarakat, yakni kesehatan publik dan stabilitas ekonomi. Menurutnya, kedua sektor tersebut memiliki keterkaitan erat karena kesehatan yang terjaga dan daya beli yang stabil merupakan fondasi penting bagi kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Dalam bidang kesehatan, pemerintah berupaya meningkatkan penemuan kasus TBC melalui pelacakan secara aktif, terutama terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien. “Sementara dalam bidang ekonomi, pengendalian inflasi terus menjadi perhatian agar harga kebutuhan pokok tetap terkendali dan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat terjaga,” kata Ayep kepada Radar Sukabumi, belum lama ini.

Kedua langkah tersebut, ditempuh agar masyarakat tidak hanya mendapatkan perlindungan dari ancaman penyakit, tetapi juga memiliki kepastian dalam mengakses layanan kesehatan tanpa terbebani biaya pengobatan. “Kami ingin memastikan bahwa persoalan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi warga untuk memperoleh penanganan medis yang diperlukan,” paparnya.

Ayep menegaskan, warga yang terdeteksi mengidap TBC akan mendapatkan perawatan dan obat-obatan secara gratis hingga dinyatakan sembuh. Kebijakan tersebut menjadi pesan penting bahwa penanganan TBC harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penemuan kasus, pemeriksaan kesehatan, pemberian pengobatan, hingga pendampingan pasien selama menjalani proses penyembuhan. “Seluruh masyarakat yang terdeteksi mengidap TBC akan mendapatkan perawatan dan obat secara gratis hingga dinyatakan sembuh total,” ucapnya.

Jaminan pengobatan tersebut, diharapkan dapat mendorong masyarakat agar tidak takut memeriksakan diri ketika mengalami gejala yang mengarah pada TBC. Pasalnya, keterlambatan pemeriksaan dan pengobatan dapat meningkatkan risiko penularan kepada orang lain, terutama anggota keluarga maupun lingkungan terdekat pasien. “Di sisi lain, keberhasilan penanggulangan TBC tidak hanya bergantung pada ketersediaan obat dan layanan medis. Kesadaran masyarakat untuk menjalani pemeriksaan, mengikuti anjuran tenaga kesehatan, serta menuntaskan pengobatan sesuai ketentuan juga menjadi faktor penting dalam memutus rantai penularan,” cetusnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Ida Halimah menjelaskan, pelacakan TBC yang dilaksanakan pemerintah daerah menyasar 93 lokasi di berbagai wilayah. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kelurahan Tipar menjadi lokasi ke-40 yang dikunjungi tim pelaksana. Pada setiap lokasi, pemeriksaan ditargetkan menjangkau rata-rata 100 orang. “Sasaran tersebut terutama berasal dari lingkaran terdekat pasien yang sebelumnya telah teridentifikasi, sehingga petugas dapat menelusuri kemungkinan adanya penularan di lingkungan keluarga maupun orang-orang yang kerap melakukan kontak dengan pasien,” ucapnya.

Pendekatan pelacakan secara aktif menjadi salah satu langkah penting untuk menemukan kasus yang berpotensi belum terdiagnosis. Melalui pemeriksaan langsung terhadap kelompok berisiko, petugas kesehatan memiliki peluang lebih besar untuk mendeteksi penyakit lebih awal dan segera mengarahkan warga yang membutuhkan ke layanan pengobatan. Dari keseluruhan target pemeriksaan terhadap 9.300 orang di seluruh wilayah Kota Sukabumi, hampir 4.000 orang telah berhasil menjalani pemeriksaan. “Capaian tersebut menunjukkan bahwa proses penelusuran terus berjalan secara bertahap, dengan sasaran memperluas jangkauan pemeriksaan hingga seluruh lokasi yang telah ditetapkan,” imbuhnya.

Ida memaparkan, berdasarkan data sementara yang terkumpul, angka positive rate atau proporsi hasil pemeriksaan positif TBC berada di angka 6,7 persen. “Temuan tersebut menjadi perhatian bagi jajaran kesehatan untuk terus memperkuat upaya deteksi dini dan memastikan warga yang terindikasi terinfeksi memperoleh tindak lanjut sesuai prosedur medis,” ulasnya.
Ia menilai, ditemukannya kasus melalui pelacakan aktif merupakan bagian penting dari upaya pengendalian penyakit. Sebab, jumlah kasus yang terungkap melalui pemeriksaan bisa saja lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya. Namun, penemuan tersebut dinilai lebih baik daripada membiarkan kasus tidak terdeteksi dan berpotensi menimbulkan penularan yang lebih luas. Dengan kata lain, semakin banyak kasus yang berhasil ditemukan sejak awal, semakin terbuka pula kesempatan bagi tenaga kesehatan untuk segera melakukan penanganan. “Langkah ini sekaligus menjadi upaya melindungi orang-orang di sekitar pasien agar tidak ikut terpapar tanpa mengetahui sumber penularannya,” tambahnya.

Pelaksanaan tracing TBC yang terintegrasi dengan CKG juga memperlihatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan sebagai pintu masuk untuk mengenali risiko penyakit sejak dini. “Melalui kegiatan tersebut, masyarakat didorong untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya dan tidak menunggu hingga gejala semakin berat sebelum mencari pertolongan medis,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Tipar, Ari Yulianti mengungkapkan, saat ini terdapat 25 pasien TBC yang tengah menjalani pengobatan di wilayah pelayanan Puskesmas Tipar. Para pasien tersebut mendapatkan pendampingan dalam proses pengobatan agar dapat menjalani terapi sesuai arahan tenaga kesehatan. Pihaknya juga menemukan dua kasus baru TBC pada Oktober 2026. “Penemuan tersebut menjadi dasar bagi petugas untuk memperluas pemeriksaan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien, sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan penularan lanjutan,” timpalnya.

Saat ini, sekitar 100 orang yang masuk dalam kelompok kontak erat tengah menjalani pemeriksaan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan apakah terdapat kasus lain yang belum teridentifikasi, sekaligus memberikan kesempatan bagi warga yang membutuhkan penanganan agar segera memperoleh layanan kesehatan. Pemeriksaan terhadap kontak erat menjadi bagian penting dalam pengendalian TBC karena penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup udara yang mengandung kuman penyebab penyakit dari penderita TBC aktif, terutama TBC paru. “Karena itu, identifikasi dini terhadap orang yang berisiko perlu dilakukan dengan pemeriksaan dan tindak lanjut sesuai penilaian tenaga kesehatan,” pungkasnya. (*)