Kota Sukabumi

Dari Batu, Kayu hingga Batik, Dekranasda Kota Sukabumi Bawa Kerajinan Lokal Menembus Pasar Luas

×

Dari Batu, Kayu hingga Batik, Dekranasda Kota Sukabumi Bawa Kerajinan Lokal Menembus Pasar Luas

Sebarkan artikel ini
Dekranasda Kota Sukabumi
Wakil Ketua Harian Dekranasda Kota Sukabumi, Martin Wahyudi saat memperlihatkan hasil kerajinan para pelaku usaha Kota Sukabumi

Di tengah derasnya arus produk modern dan perubahan gaya hidup masyarakat, kerajinan lokal terus mencari ruang untuk bertahan, tumbuh, dan dikenal lebih luas. Di Kota Sukabumi, upaya tersebut dilakukan melalui peran aktif Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) yang kini semakin serius menjadi rumah bagi para perajin lokal.

BAMBANG SURYANA, SUKABUMI

Bukan sekadar tempat memajang produk, Dekranasda Kota Sukabumi perlahan dibangun sebagai ruang bertemunya kreativitas, budaya, dan peluang ekonomi. Kehadiran gedung Dekranasda pada 2026 menjadi langkah penting untuk memberikan wadah bagi para perajin dalam memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.

Wakil Ketua Harian Dekranasda Kota Sukabumi, Martin Wahyudi mengatakan, keberadaan gedung tersebut diharapkan dapat menjadi etalase bagi berbagai produk kerajinan lokal. Menurutnya, Kota Sukabumi memiliki banyak potensi kerajinan yang layak diperkenalkan, tidak hanya kepada masyarakat lokal, tetapi juga kepada khalayak yang lebih luas.

“Dekranasda itu baru di tahun 2026 ini sebenarnya memiliki tempat, memiliki gedung. Gedung ini menjadi wadah bagi para pelaku perajin di Kota Sukabumi untuk lebih memperkenalkan produknya kepada masyarakat,” kata Martin kepada Radar Sukabumi, Selasa (28/7).

Lebih dari itu, keberadaan Dekranasda juga memiliki misi untuk menjaga agar kekayaan budaya lokal tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Produk-produk kerajinan yang lahir dari tangan para perajin diharapkan dapat terus berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan identitas dan karakter Sukabumi.

“Langkah memperkenalkan karya lokal tersebut sejatinya telah dilakukan sejak 2025. Salah satunya melalui kegiatan fashion show yang menggunakan berbagai batik khas Kota Sukabumi, di antaranya Batik Kendari, Batik KK, Batik Gelis, hingga Batik Lokat Mala,” ujarnya.

Kegiatan tersebut, menjadi cara lain untuk memperlihatkan bahwa produk kerajinan daerah tidak selalu identik dengan sesuatu yang kuno. Dengan kreativitas dan sentuhan desain, karya lokal dapat tampil modern, menarik, dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

“Memasuki 2026, langkah Dekranasda Kota Sukabumi semakin diperluas. Kunjungan dari perwakilan negara sahabat, termasuk Duta Besar Rumania, menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan produk-produk kerajinan Sukabumi kepada tamu dari luar negeri,” bebernya.

Dalam kunjungan tersebut, sejumlah produk lokal mendapat perhatian. Bahkan, beberapa produk kerajinan Sukabumi turut dibeli oleh para tamu yang berkunjung. Bagi Dekranasda, hal tersebut menjadi sinyal bahwa karya para perajin lokal memiliki peluang untuk diterima di pasar yang lebih luas.

“Alhamdulillah, produk kita juga banyak yang disukai. Pada saat kunjungan, mereka juga membeli beberapa produk yang ada di kita,” ungkapnya.

Tak berhenti pada kunjungan, Dekranasda Kota Sukabumi juga membawa produk lokal ke berbagai ajang pameran. Sepanjang 2026, sedikitnya dua pameran besar diikuti, yakni pameran Apeksi di Kota Medan dan pameran dalam rangka Hari Dewan Kerajinan Nasional di Kota Makassar.

“Dari dua pameran tersebut, produk-produk Sukabumi kembali mendapat respons positif. Para pengunjung menunjukkan ketertarikan terhadap berbagai karya yang ditampilkan, bahkan tidak sedikit yang kemudian membeli produk kerajinan asal Kota Sukabumi,” ucapnya.

Bagi Martin, setiap pameran bukan hanya tentang transaksi penjualan. Lebih jauh, pameran menjadi kesempatan untuk memperkenalkan identitas daerah melalui karya-karya yang lahir dari tangan para perajin.

Di antara berbagai produk yang saat ini menjadi perhatian, terdapat tiga komoditas yang mulai didorong sebagai produk unggulan. “Pertama adalah kerajinan batu yang diolah menjadi berbagai produk, termasuk gelang dan benda-benda bernilai seni,” timpalnya.

Selain itu, terdapat batu giok yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam bidang kecantikan. Produk lainnya adalah tas berbahan kayu yang memiliki keunikan tersendiri karena memadukan unsur alam, kreativitas, dan desain.
Batik juga menjadi salah satu kekuatan utama kerajinan Kota Sukabumi. Beragam motif dan karakter batik lokal terus diperkenalkan sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

“Tiga produk yang saat ini kita dorong, di antaranya batu, tas kayu, dan batik. Insyaallah, ke depan semuanya bisa menjadi produk unggulan,” imbuhnya.

Namun, di balik potensi besar tersebut, perjalanan para perajin untuk menembus pasar yang lebih luas tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah ketersediaan produk.

“Sebagian besar perajin di Kota Sukabumi masih menjadikan kegiatan kerajinan sebagai usaha sampingan. Mereka memiliki pekerjaan utama lain, sehingga proses produksi tidak selalu dapat dilakukan secara penuh waktu,” paparnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika muncul pesanan dalam jumlah besar. Di satu sisi, pasar mulai terbuka, tetapi di sisi lain kapasitas produksi harus dipastikan mampu memenuhi permintaan.

“Perajin kita tidak hanya bekerja sebagai perajin. Ada juga yang bekerja di tempat lain. Jadi, ketika ada pesanan, ketersediaan produk juga harus diperhatikan,” cetusnya.

Tantangan lainnya adalah pemanfaatan teknologi digital. Tidak semua perajin memiliki pemahaman yang cukup untuk memasarkan produknya melalui media digital. Padahal, saat ini pasar tidak lagi terbatas pada ruang pamer atau toko fisik.

“Produk yang sebelumnya hanya dikenal oleh masyarakat sekitar, kini berpeluang menjangkau konsumen dari berbagai daerah bahkan mancanegara melalui platform digital,” celotehnya.

Karena itu, Dekranasda Kota Sukabumi tengah menyiapkan langkah untuk membantu para perajin masuk ke ruang digital. Salah satunya melalui penyusunan katalog produk elektronik yang dapat menampilkan berbagai produk kerajinan lokal.

“Ke depan kami ingin para perajin bisa lebih aktif memperkenalkan dan mempromosikan produknya secara digital. Karena kadang yang memproduksi adalah bapaknya, tetapi belum terlalu memahami teknologi informasi,” tuturnya.

Katalog digital tersebut, diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat yang ingin mengenal dan membeli produk-produk kerajinan Kota Sukabumi. Selain katalog, pengembangan website juga menjadi bagian dari rencana penguatan pemasaran.

“Dengan demikian, masyarakat tidak harus datang langsung ke lokasi untuk mengetahui produk apa saja yang tersedia. Cukup melalui kanal digital, calon pembeli dapat melihat berbagai pilihan produk dan menghubungi pihak terkait untuk melakukan pemesanan,” jelasnya.

Saat ini, produk yang telah tergabung dalam pembinaan Dekranasda masih berada pada jumlah puluhan. Sebelumnya, terdapat ratusan perajin yang telah terdata, namun seluruh produk masih harus melalui proses kurasi.

“Kurasi tersebut dilakukan untuk memastikan produk yang masuk memiliki kualitas, karakter, serta memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam pengembangan kerajinan daerah,” tambahnya.

Menurut Martin, proses kurasi bukan dimaksudkan untuk membatasi para perajin. Sebaliknya, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas agar produk lokal memiliki daya saing yang lebih kuat.

Di sisi lain, Dekranasda juga terus berupaya meningkatkan kemampuan para perajin melalui berbagai program pelatihan. Kolaborasi dengan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan menjadi bagian penting dalam pengembangan kapasitas pelaku kerajinan.

Rencana pelatihan yang disiapkan di antaranya berkaitan dengan desain batik serta pengembangan kerajinan berbahan bambu, termasuk anyaman.

“Pelatihan tersebut diharapkan dapat membuka ruang kreativitas baru bagi para perajin. Sebab, perkembangan pasar menuntut produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki desain menarik dan mampu mengikuti kebutuhan konsumen,” tutupnya. (Bam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *