CIKOLE – Batik Sukabumi menghadapi tantangan untuk terus berinovasi di tengah perubahan selera konsumen dan persaingan industri kreatif yang semakin dinamis. Produk batik tidak cukup hanya mengandalkan identitas lokal, tetapi juga membutuhkan desain yang menarik, proses produksi efisien, serta kemampuan membaca kebutuhan pasar.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumindag) Kota Sukabumi, Een Rukmuni, mengatakan penguatan kapasitas perajin menjadi salah satu kunci agar batik lokal memiliki daya saing.
Menurutnya, kreativitas dalam desain harus terus dikembangkan, terutama dengan melibatkan generasi muda yang memiliki perspektif berbeda terhadap tren dan kebutuhan pasar.
“Batik tidak hanya bagaimana mempertahankan budaya, tetapi juga bagaimana mengembangkannya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Karena itu, keterampilan dan kreativitas para perajin perlu terus diperkuat agar mampu menghasilkan desain yang inovatif dan sesuai dengan perkembangan zaman,” ujar Een.
Menurut Een, regenerasi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan batik Sukabumi. Kehadiran desainer muda diharapkan dapat memperkaya gagasan motif sekaligus menjembatani karakter batik lokal dengan selera konsumen masa kini.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Desain Batik, yang digelar Diskumindag Kota Sukabumi pada 8–10 September 2026 di Gerai Batik Lokatmala, Subangjaya.
Sebanyak 75 peserta yang terdiri dari perajin dan desainer muda lokal mengikuti pelatihan dengan fokus pada pengembangan motif batik cap modern tanpa meninggalkan identitas serta kearifan lokal Sukabumi.
Sementara itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Sukabumi, Ranty Rachmatilah, menilai pengembangan batik cap dapat menjadi salah satu jalan untuk menjawab kebutuhan industri, terutama dari sisi inovasi dan efisiensi produksi.
“Para pengrajin batik Kota Sukabumi tidak hanya harus mahir secara teknis, tetapi juga adaptif terhadap tren pasar. Inovasi motif batik cap diharapkan dapat mempercepat proses produksi tanpa mengurangi nilai estetika dan identitas khas Sukabumi,” kata Ranty.
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak sekadar belajar membuat motif. Mereka mendapatkan pendampingan mulai dari menggali ide desain, membuat master cap hingga mempraktikkan proses pewarnaan yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan produk yang lebih variatif sekaligus memiliki nilai jual lebih tinggi.
Ranty mengatakan industri batik memiliki peluang untuk menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kreatif daerah. Karena itu, pembinaan tidak seharusnya berhenti pada peningkatan kemampuan produksi, tetapi perlu dilanjutkan dengan penguatan kualitas produk dan akses pasar.
“Dekranasda Kota Sukabumi pun mendorong agar karya yang dihasilkan dari proses pelatihan dapat dikembangkan dan diperkenalkan melalui berbagai ajang ekonomi kreatif regional maupun nasional,” tegasnya.
Lanjut Ranty, dengan demikian, motif khas Sukabumi tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga memiliki peluang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas dan memberikan nilai ekonomi bagi para perajinnya. (ris)

