sukabumimetro.com/ – Di sudut RW 1 Kelurahan Warudoyong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, sampah tak lagi sekadar tumpukan sisa aktivitas rumah tangga yang harus dibuang. Di tangan warga, sampah justru menjadi awal dari sebuah siklus kehidupan baru sampah organik diolah menjadi magot, magot menjadi pakan ternak, sementara sampah anorganik dikumpulkan melalui bank sampah untuk kembali memiliki nilai guna.
Garis Nurbogarullah, Sukabumi
Dari lingkungan permukiman sederhana, warga mulai membangun cara pandang baru terhadap persoalan sampah. Apa yang sebelumnya dianggap tidak berguna, perlahan diubah menjadi sumber manfaat bagi lingkungan sekaligus peluang ekonomi masyarakat.
Inisiatif yang berjalan hampir satu tahun ini mengantarkan Kelurahan Warudoyong meraih juara pertama pengelolaan sampah tingkat Kota Sukabumi. Prestasi tersebut bukan semata-mata tentang keberhasilan mengurangi sampah, melainkan juga menjadi bukti bahwa perubahan dapat dimulai dari lingkungan terkecil dengan mengandalkan kreativitas dan semangat gotong royong.
Lurah Warudoyong, Nuke Nurulaini menjelaskan salah satu upaya yang dikembangkan warga adalah budidaya magot untuk mengolah sampah organik. Prosesnya dimulai dari pengelolaan lalat hingga menghasilkan telur yang kemudian dibudidayakan dengan memanfaatkan sampah organik sebagai media pakan.
Magot yang tumbuh selanjutnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan bebek dan ayam. Dengan cara tersebut, sampah rumah tangga tidak hanya berkurang, tetapi juga menghasilkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan kembali. Dampaknya mulai terlihat pada perkembangan ternak yang semakin bertambah. Bahkan, pengelola kini berupaya memperluas area peternakan agar kegiatan tersebut dapat berkembang lebih jauh.
“Alhamdulillah, sekarang bebeknya sudah mulai banyak. Karena protein dari magot ini bagus, perkembangannya juga cepat. Kami sudah mulai memperluas area untuk tempat beternak bebek,” kata Nuke.
Bagi warga, budidaya magot bukan sekadar cara mengatasi sampah organik. Program ini membuka peluang untuk membangun kegiatan produktif yang saling terhubung, mulai dari pemilahan sampah, penyediaan pakan ternak, hingga kemungkinan menghasilkan pendapatan dari penjualan bebek dan telur.
Ketika populasi ternak telah mencukupi, hasil peternakan tersebut direncanakan dipasarkan kepada masyarakat, termasuk telur bebek yang berpotensi dijual kepada pedagang jamu. Sementara itu, hasil yang tersedia saat ini juga dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan warga sekitar.
“Kalau bebeknya sudah banyak, rencananya kami jual bebeknya dan telurnya juga dijual ke tukang jamu. Jadi ada nilai ekonominya. Yang penting masyarakat bisa bekerja sama dan merasakan manfaatnya,” tuturnya.
Di balik kegiatan tersebut, ada peran masyarakat yang menjadi penopang keberlangsungan program. Pengelolaan dilakukan secara berkelompok dengan melibatkan ketua RW sebagai penanggung jawab, bersama unsur RT, Linmas, dan warga setempat.
Dukungan juga datang dari warga yang bersedia meminjamkan lahannya secara gratis untuk kegiatan pengolahan sampah dan peternakan. Lahan tersebut dapat digunakan selama pemiliknya belum membutuhkan kembali, dengan kesepakatan bahwa kebersihan dan perawatannya harus tetap dijaga.
Kolaborasi itu memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai dengan pembangunan fasilitas besar atau investasi mahal. Pemanfaatan lahan yang tersedia, keterlibatan warga, serta pengelolaan yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan dapat menjadi modal awal untuk membangun sistem yang lebih berkelanjutan.
Selain sampah organik, warga juga mengembangkan bank sampah untuk menangani material anorganik. Sampah dipilah sejak dari sumbernya agar setiap jenis memperoleh penanganan yang sesuai. Sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya magot, sedangkan material anorganik dikumpulkan untuk dikelola lebih lanjut.
Pola tersebut diharapkan dapat mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, terutama TPA Cikundul. Dengan pemilahan yang konsisten, material yang masih memiliki nilai guna tidak langsung bercampur dengan sampah lain dan berakhir sebagai residu.
Pengembangan berikutnya diarahkan pada pemanfaatan mesin pencacah plastik bantuan Pemerintah Kota Sukabumi. Kehadiran mesin tersebut diharapkan meningkatkan nilai jual plastik sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat. Namun, rencana itu masih membutuhkan sejumlah persiapan. Mesin belum dapat dioperasikan karena memerlukan pasokan listrik dengan daya memadai serta penataan lokasi. Pihak kelurahan pun mulai berkoordinasi dengan PLN untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Target kami pada 2027, sampah anorganik dari seluruh wilayah Kelurahan Warudoyong bisa masuk ke RW 1 untuk dikelola. Tempatnya sudah ada, tinggal ditata, dan kami sedang mengupayakan kebutuhan listrik untuk mesin pencacah plastik,” ungkap Nuke.
Meski telah menunjukkan hasil, pengelolaan sampah berbasis masyarakat masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Sebab, sistem pengolahan yang baik akan sulit berjalan apabila sampah masih tercampur sejak awal.
Kelurahan Warudoyong memiliki lima RW dengan karakteristik lingkungan yang berbeda. Karena itu, penerapan sistem pengelolaan sampah tidak bisa dipaksakan menggunakan pola yang sama di setiap wilayah.
Sosialisasi terus dilakukan untuk mendorong masyarakat mengenali jenis sampah dan memilih metode penanganan yang sesuai. Salah satu alternatif yang diperkenalkan adalah penggunaan lubang biopori untuk membantu mengelola sampah organik di lingkungan permukiman.
Perubahan perilaku masyarakat membutuhkan proses panjang dan edukasi berkelanjutan. Kesadaran tidak cukup dibangun melalui imbauan, tetapi juga perlu didukung contoh nyata dan manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh warga.
“Untuk mengubah pola perilaku masyarakat itu perlu dilakukan terus-menerus, tidak bisa instan. Kalau ada manfaat dan nilai ekonomi yang dirasakan, masyarakat juga akan lebih terdorong untuk ikut terlibat,” katanya.
Saat ini, kegiatan pengelolaan sampah di RW 1 masih bertumpu pada kemampuan swadaya warga dan belum melibatkan pihak swasta. Kelurahan Warudoyong juga belum memiliki tempat pengolahan sampah dengan prinsip “reduce, reuse, recycle” atau TPS 3R.
Keterbatasan tersebut menjadi pekerjaan rumah yang perlu dijawab secara bertahap. Penguatan fasilitas, kesiapan infrastruktur, serta perluasan partisipasi masyarakat menjadi bagian penting agar program tidak berhenti pada prestasi tingkat kota.
Di sisi lain, bank sampah mulai dipromosikan melalui media sosial, termasuk TikTok, untuk menjangkau lebih banyak warga. Pemanfaatan media digital diharapkan membantu menyebarkan praktik baik sekaligus mendorong masyarakat menjadikan pemilahan sampah sebagai kebiasaan sehari-hari.
Bagi Kelurahan Warudoyong, gelar juara pertama menjadi penyemangat untuk melanjutkan upaya yang telah dirintis. Sebab, keberhasilan pengelolaan sampah tidak semata-mata diukur dari penghargaan, tetapi dari seberapa jauh program tersebut mampu bertahan, mengurangi beban lingkungan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari budidaya magot, peternakan bebek dan ayam, hingga bank sampah, warga RW 1 sedang membangun sebuah siklus pemanfaatan yang berangkat dari persoalan sehari-hari.
Perjalanan itu memang belum selesai, tetapi satu hal mulai terlihat, ketika masyarakat terlibat dan sampah dikelola dengan tepat, sesuatu yang dianggap tidak berguna dapat membuka jalan menuju lingkungan yang lebih bersih dan peluang ekonomi yang lebih menjanjikan. (*)



