Kota Sukabumi

JKN Jadi Andalan Eri Lindungi Kesehatan Seluruh Keluarga

×

JKN Jadi Andalan Eri Lindungi Kesehatan Seluruh Keluarga

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI – Jaminan kesehatan menjadi perlindungan penting bagi keluarga ketika menghadapi kondisi kesehatan yang tidak terduga. Manfaat tersebut dirasakan oleh Eri Sumarwan (47), warga Kota Sukabumi, yang telah menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) selama kurang lebih 10 tahun. Baginya, kehadiran JKN memberikan ketenangan karena dirinya dan keluarga dapat memperoleh pelayanan kesehatan tanpa harus khawatir berlebihan mengenai biaya pengobatan.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Eri adalah ketika anaknya harus menjalani operasi usus buntu. Awalnya, sang anak dibawa ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter kemudian memberikan rujukan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Setibanya di rumah sakit, sang anak menjalani pemeriksaan secara menyeluruh. Dokter kemudian menyampaikan bahwa anaknya mengalami usus buntu dan harus segera menjalani operasi. Saat itu, pihak rumah sakit sempat menyampaikan bahwa biaya tindakan medis yang dibutuhkan cukup besar.

“Awalnya saya belum menyampaikan kalau saya peserta JKN. Namun, pihak rumah sakit meminta KTP untuk dilakukan pengecekan dan ternyata saya terdaftar sebagai peserta JKN. Pihak rumah sakit kemudian menyampaikan bahwa biaya pengobatan anak saya dapat ditanggung BPJS Kesehatan,” cerita Eri.

Perjalanan pengobatan anaknya ternyata tidak singkat. Karena kondisi usus buntu yang sudah pecah dan infeksi telah menyebar ke organ lainnya, sang anak harus menjalani rawat inap selama kurang lebih 14 hari setelah operasi. Kondisinya saat itu masih lemah dan belum stabil. Bekas jahitan operasi juga masih mengeluarkan darah sehingga membutuhkan observasi serta pemantauan medis secara rutin.

“Saat itu anak saya cukup lama dirawat inap, sekitar 14 hari karena usus buntunya sudah pecah dan menyebar ke organ lainnya. Awalnya saya berpikir BPJS Kesehatan hanya menanggung selama 3 hari saja dan saya harus membayar sisa harinya. Ternyata di luar dugaan, semuanya ditanggung BPJS Kesehatan sampai kontrol rutin. Rumor-rumor yang beredar di luar sana tidak benar adanya karena keluarga saya sudah merasakannya langsung,” ungkapnya.

Tidak hanya dari sisi pembiayaan, Eri juga mengapresiasi pelayanan yang diterima anaknya selama menjalani perawatan. Menurutnya, dokter dan tenaga kesehatan memberikan pelayanan secara profesional tanpa membedakan pasien yang menggunakan JKN maupun pasien umum.

Pengalaman lainnya juga pernah dialami Eri sendiri. Suatu ketika, saat sedang mengendarai sepeda motor, ia tiba-tiba mengalami sesak napas di perjalanan. Merasa kondisinya cukup mengkhawatirkan, Eri memutuskan untuk langsung menuju rumah sakit dan mendapatkan penanganan melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Saat saya masuk IGD saya langsung diberikan tempat untuk dilakukan pemeriksaan. Saya diminta untuk menujukan KTP, bukan langsung soal BPJS-nya. Setelah dilihat saya peserta aktif BPJS Kesehatan, langsung ditangani dan diperiksa secara keseluruhan. Saat itu tekanan darah saya tinggi dan diminta istirahat sekitar satu jam. Alhamdulillah kondisi saya kembali stabil dan tidak perlu rawat inap. Tidak ada biaya sedikit pun yang harus saya keluarkan,” tuturnya.

Manfaat JKN juga dirasakan Eri ketika mendampingi istrinya menjalani persalinan. Saat itu, sang istri terlebih dahulu diperiksa di puskesmas. Karena ditemukan kondisi detak jantung bayi yang tidak normal, ia kemudian diarahkan ke IGD rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Di rumah sakit, dokter melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Meski saat itu sang istri juga mengalami demam, kondisinya berangsur stabil dan akhirnya dapat menjalani persalinan secara normal. Seluruh biaya pelayanan kesehatan tersebut juga dijamin melalui Program JKN. Eri menambahkan, anak kedua hingga keempatnya lahir melalui persalinan normal dengan menggunakan BPJS Kesehatan.

“Dengan adanya JKN ini sangat membantu sekali sebagai jaminan bagi keluarga. Kalau kita sakit, tinggal menunjukkan kepesertaan tanpa harus pusing memikirkan biaya lagi. Kalau dipikir-pikir, dengan iuran yang kita bayarkan dibandingkan biaya yang dikeluarkan BPJS Kesehatan, seperti operasi anak saya dan persalinan istri, manfaatnya sangat besar bagi keluarga,” jelas Eri.

Berdasarkan berbagai pengalaman tersebut, Eri berharap BPJS Kesehatan terus mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan agar semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat Program JKN. Ia juga berpesan kepada masyarakat yang belum terdaftar sebagai peserta JKN agar segera mendaftarkan diri sebelum membutuhkan pelayanan kesehatan.

“Harapan saya, pelayanan BPJS Kesehatan yang saat ini sudah sangat baik dapat terus ditingkatkan lagi. Pesan saya untuk masyarakat yang belum mendaftar JKN, sebaiknya segera mendaftarkan diri dari sekarang. Jangan sampai ketika sudah sakit baru sibuk mengurus kepesertaan. Kita jangan dulu melihat besaran iuran yang kita bayarkan, tetapi lihat bagaimana kita sudah mendapatkan perlindungan kesehatan dari BPJS Kesehatan,” pungkas Eri. (*)