Kota Sukabumi

Dari UMMI untuk BUMI: Eco-Board Ubah Sampah Plastik Menjadi Produk Bernilai

×

Dari UMMI untuk BUMI: Eco-Board Ubah Sampah Plastik Menjadi Produk Bernilai

Sebarkan artikel ini

sukabumimetro.com/ – Sampah plastik yang selama ini kerap berakhir sebagai limbah, ternyata dapat diolah kembali menjadi material yang memiliki nilai guna. Dari lingkungan kampus, inovasi tersebut dikembangkan melalui Eco-Board, salah satu bagian dari program REKABUMI yang mengolah sampah plastik tertentu menjadi papan dan berbagai produk fungsional.

Eco-Board memanfaatkan plastik jenis high-density polyethylene (HDPE), khususnya tutup botol plastik yang telah melalui proses pemilahan. Plastik tersebut tidak langsung diolah begitu saja. Sebelum masuk ke tahap produksi, material harus dipastikan sesuai dengan karakteristik bahan yang dibutuhkan.

Neneng Kartika Rini, selaku pembina program Eco-Board, menjelaskan bahwa pemilahan menjadi tahap penting karena tidak seluruh jenis plastik dapat digunakan sebagai bahan baku. Tutup botol termasuk material yang dapat dimanfaatkan, sementara plastik tipis seperti kantong kresek tidak sesuai dengan proses pengolahan yang diterapkan.

“Setelah dikumpulkan dan dipilah, plastik yang akan digunakan terlebih dahulu dicuci dan dikeringkan. Material kemudian dicacah menjadi bagian-bagian kecil sebelum diproses menggunakan panas dengan bahan pendukung tertentu,” ujarnya.

Lanjut Neneng, plastik yang telah diproses selanjutnya dimasukkan ke dalam cetakan dan diberi tekanan. Setelah melalui proses pendinginan, material tersebut berubah menjadi papan yang dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk berbagai kebutuhan.

‘Papan hasil pengolahan kemudian tidak berhenti sebagai material semata. Eco-Board mengembangkannya menjadi sejumlah produk, mulai dari meja dan kursi hingga cermin, gantungan kunci, serta pelindung perangkat,” jelasnya.

Pengembangan produk tersebut membuat sampah plastik tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai material yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali.

“Eco-Board juga diarahkan untuk memiliki nilai ekonomi. Sejumlah produk yang dihasilkan telah menerima pesanan dari pihak luar, meskipun proses produksinya masih dilakukan dalam skala terbatas,” kata Neneng.

Dalam memperoleh bahan baku, Eco-Board membangun kolaborasi dengan sejumlah pihak yang bergerak dalam pengelolaan sampah, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan bank sampah. “Kerja sama tersebut membantu mendukung ketersediaan material sekaligus memperluas pemanfaatan sampah plastik agar tidak langsung berakhir sebagai limbah,” paparnya.

Di sisi lain, pengembangan Eco-Board turut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar mengelola inovasi sekaligus menjalankan kegiatan kewirausahaan. Tantangannya bukan hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga bagaimana membagi waktu antara kegiatan akademik dan pengembangan usaha.

Keterlibatan mahasiswa menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keberlangsungan Eco-Board. Bagi pengelola program, keberadaan sampah yang terus dihasilkan menjadi alasan agar inovasi pengolahan sampah tetap dikembangkan.

“Yang namanya sampah pasti selalu ada. Jadi peran mahasiswa, terutama di bisnis Eco-Board yang mendukung inovasi kampus REKABUMI, harus terus dilaksanakan. Sesulit apa pun proses di lapangannya, pasti ada saja jalan untuk bisa sustain dan bisa berlanjut di bisnis pengolahan sampah ini, terutama sampah anorganik,” ujar Neneng.

Pesan tersebut menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak cukup berhenti pada tahap pemilahan. Sampah yang telah dipisahkan masih membutuhkan proses lanjutan agar dapat kembali digunakan dan memiliki nilai tambah.

“Melalui Eco-Board, lingkungan kampus menjadi ruang untuk mempertemukan kepedulian terhadap lingkungan dengan inovasi dan kewirausahaan mahasiswa. Sampah plastik yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber pencemaran diolah menjadi material baru yang dapat dimanfaatkan kembali,” tukasnya.

Inisiatif tersebut sekaligus menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dimulai dari lingkup yang dekat. “Dari kampus, pengelolaan sampah dikembangkan bukan hanya untuk mengurangi limbah, tetapi juga untuk membuka peluang lahirnya produk, keterampilan, dan inovasi yang mendukung keberlanjutan,” pungkasnya. (ris)