Nasional

Rocky Gerung Warning Taruna STPN: Kesalahan Kelola Tanah Permanen, Tak Bisa Dimaafkan!

×

Rocky Gerung Warning Taruna STPN: Kesalahan Kelola Tanah Permanen, Tak Bisa Dimaafkan!

Sebarkan artikel ini

SLEMAN — Akademisi sekaligus filsuf Rocky Gerung menilai persoalan tanah tidak bisa dipahami sebatas urusan teknis dan administrasi belaka. Masalah agraria beririsan erat dengan berbagai lini kehidupan, mulai dari hukum, politik, ekonomi, ekologi, hingga psikologi.

Hal tersebut disampaikan Rocky saat mengisi Kuliah Umum bertajuk “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan” di Politeknik Agraria STPN, Sleman, D.I. Yogyakarta, Jumat (4/9).

Acara tersebut turut dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, jajaran pejabat tinggi kementerian, serta lebih dari 500 taruna-taruni.

Dalam pemaparannya, Rocky membandingkan fokus studi STPN dengan sejumlah perguruan tinggi ternama. Menurutnya, kampus lain cenderung berfokus pada satu kacamata spesifik, sementara taruna STPN dituntut memahami spektrum ilmu yang jauh lebih luas.

“Kalau di Akmil cuma belajar mempertahankan negara, di FE UI belajar supply-demand tanah, di ITB melihat struktur geologi, dan IPB belajar memupuk tanah. Di sini Anda belajar semua hal, dari tata negara sampai psikologi. Ini kampus paling lengkap sebetulnya,” ujar Rocky dikutip Radar Sukabumi pada halaman resmi website Kementerian ATR/BPN.

Rocky menjelaskan, komplikasi persoalan agraria muncul akibat perebutan makna atas tanah oleh tiga aktor utama: masyarakat adat, negara, dan korporasi. Bagi masyarakat adat, tanah menyimpan nilai sakral warisan leluhur. Sementara negara memandangnya sebagai ranah hukum dan aturan, sedangkan korporasi menempatkan tanah murni sebagai komoditas bisnis.

Pergeseran makna ini kerap memicu konflik horizontal maupun vertikal di lapangan ketika tanah adat dialihfungsikan menjadi tanah negara lalu diserahkan ke korporasi atas nama pembangunan.

Oleh karena itu, Rocky mewanti-wanti para calon insan pertanahan agar tidak ragu membedah akar masalah agraria secara luas dan tidak terjebak pada formalitas teknis semata.

“Kesalahan dalam mengolah tanah tidak mungkin dimaafkan karena dampaknya permanen,” tegas Rocky menutup pemaparannya. (Den)