PendidikanUniversitas Muhammadiyah Sukabumi

Mahasiswa UMMI Syahrul Arifin Tembus Top 6 Duta Lingkungan Jabar

×

Mahasiswa UMMI Syahrul Arifin Tembus Top 6 Duta Lingkungan Jabar

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI – Kepedulian terhadap lingkungan mengantarkan Syahrul Arifin, mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), meraih prestasi di tingkat provinsi. Berawal dari tugas kuliah tentang banjir di Kota Sukabumi, Syahrul kini menjadi bagian dari Top 6 Duta Lingkungan Jawa Barat kategori dewasa dan bersiap membawa gagasan pelestarian lingkungan ke tingkat nasional pada 2026.

Perjalanan Syahrul dalam dunia lingkungan bermula saat mengikuti Project Based Learning (PJBL) mata kuliah Pendidikan Pancasila pada semester pertama. Saat itu, ia bersama kelompoknya mengangkat persoalan banjir di Kota Sukabumi yang terjadi pada 2024 sebagai topik kajian.

Dari penelusuran berbagai sumber, Syahrul menemukan persoalan timbulan sampah yang menyumbat gorong-gorong menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir. Kajian tersebut membuka pandangannya bahwa persoalan yang kerap dianggap sepele dapat menimbulkan dampak besar bagi masyarakat.

Pengalaman itu menjadi titik balik yang mendorongnya terlibat lebih jauh dalam aksi pelestarian lingkungan. Ia mulai membangun konsistensi melalui berbagai kegiatan sosial, edukasi masyarakat, hingga berkolaborasi dengan komunitas dan lembaga yang bergerak di bidang lingkungan.

“Masalah sampah ini ternyata bukan persoalan sepele. Dampaknya bisa merugikan banyak orang, bahkan memicu bencana. Dari situ saya merasa harus ikut bergerak dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan,” ungkap Syahrul.

Dalam proses penugasan, Syahrul menjalankan berbagai aksi di masyarakat, melakukan advokasi lingkungan, serta membangun dukungan dari sejumlah pihak. Keaktifannya di lapangan menjadi salah satu modal penting dalam menghadapi penilaian dewan juri.

Pada babak grand final, peserta mempresentasikan program dan hasil kegiatan lingkungan yang telah dilakukan, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab mengenai berbagai persoalan lingkungan.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Syahrul berhasil masuk Top 6 Duta Lingkungan Jawa Barat kategori dewasa. Baginya, pencapaian itu bukan sekadar gelar, melainkan hasil dari proses panjang, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar.

“Menjadi bagian dari Top 6 ini merupakan hasil perjuangan. Kita harus punya kekuatan mental, fisik, pengetahuan, dan yang paling penting tetap aktif melakukan aksi nyata di lapangan,” ujarnya.

Dalam ajang tersebut, Syahrul membawa tiga gagasan unggulan untuk menjawab persoalan lingkungan dari lingkup masyarakat. Program pertama adalah Satu Sekolah Satu Bank Sampah, yakni upaya membantu sekolah membangun sistem pengelolaan sampah yang praktis. Sekolah berperan sebagai penghubung, sementara siswa membawa sampah terpilah dari rumah untuk dikumpulkan dan dijemput oleh bank sampah mitra.

Program ini dirancang melalui kolaborasi dengan Bank Sampah Induk Kota Sukabumi atau Bank SAMMI. Dengan skema tersebut, sekolah tidak harus menyediakan bangunan khusus untuk bank sampah, tetapi tetap dapat membangun kebiasaan memilah sampah sejak dini.

Gagasan kedua, Hegar Manah, mengajak masyarakat menjaga kebersihan masjid. Nama tersebut berasal dari bahasa Sunda, yakni hegar yang bermakna bersih dan manah yang berarti hati. Program ini memadukan kepedulian terhadap kebersihan tempat ibadah dengan pembentukan karakter masyarakat.

Sementara itu, gagasan ketiga adalah Junam atau Jumat Menanam, yaitu gerakan menanam yang mengadopsi inisiatif di Kelurahan Cisarua untuk diperkenalkan pada lingkup yang lebih luas.

Selain mengembangkan gagasan, Syahrul juga terlibat langsung dalam berbagai aksi lingkungan. Salah satunya anggota komunitas Restoe Boemi, ia mengikuti kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, termasuk roadshow bersama Bank Syariah Indonesia (BSI) ke tujuh kecamatan.

Ia juga terlibat dalam praktik pembuatan lubang biopori serta edukasi pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga. Pada peringatan Hari Sungai Sedunia, Syahrul bersama berbagai elemen masyarakat melakukan aksi bersih-bersih sungai di Kecamatan Citamiang.

Dalam kegiatan tersebut, tim berhasil mengumpulkan sampah hingga satu mobil pikap. Hasil serupa dicapai dalam kegiatan World Cleanup Day (WCD).

Kiprahnya juga meluas melalui keterlibatan bersama Yayasan Bentang Alam Indonesia dalam program Kampung Asri di Lembang. Ia turut terlibat dalam perancangan TPS3R di kawasan Villa Istana Bunga, Lembang, serta menjadi bagian dari pendampingan bersama Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat dalam program Gradasi, yakni KKN Tematik yang berfokus pada penanganan sampah.

Ia juga tengah mengembangkan program unggulan JAGA BANGSA, akronim dari Jumat Gerakan Menanam Merawat Generasi Bangsa. Program ini merupakan pengembangan gagasan Satu Sekolah Satu Bank Sampah yang dipadukan dengan gerakan menanam dan edukasi lingkungan bagi anak-anak.

Melalui JAGA BANGSA, Syahrul ingin membangun kesadaran lingkungan sejak dini sekaligus menyiapkan generasi muda yang lebih peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Program tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Sukabumi dan sejumlah pemangku kepentingan di bidang lingkungan dan pendidikan.

Menurut Syahrul, persoalan sampah dan berkurangnya ruang terbuka hijau menjadi dua isu yang perlu mendapat perhatian di Kota Sukabumi. Namun, ia menilai persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut tumpukan sampah, melainkan harus dimulai dari perubahan kesadaran dan kebiasaan masyarakat.

“Persoalan utamanya bukan hanya sampah yang menumpuk, tetapi kesadaran masyarakat. Karena itu, edukasi harus terus dilakukan dan dimulai sejak anak-anak agar kebiasaan baik ini bisa diwariskan kepada generasi berikutnya,” jelasnya.

Ia berharap pengalamannya sebagai mahasiswa UMMI sekaligus pegiat lingkungan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tidak sekadar peduli, tetapi berani mengambil peran dalam menjaga lingkungan.(wdy)