SUKABUMI — Inovasi pertanian presisi kini hadir di Sukabumi. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) melalui Program PPK Ormawa BEM F-Saintek membangun SWARNA Greenhouse, fasilitas berbasis Internet of Things (IoT) di Desa Warnasari. Targetnya, efisiensi penggunaan air naik 30 persen dan produktivitas cabai rawit meningkat 20 persen per siklus tanam.
Ketua Tim Pelaksana, Salsabila Anggraina Putri, menjelaskan bahwa petani cabai rawit di Warnasari selama ini masih mengandalkan penyiraman manual tanpa data kelembapan tanah. “Kondisi ini membuat penggunaan air boros hingga 30–40 persen, sementara hasil panen belum maksimal. Lewat SWARNA Greenhouse, kami memasang sensor kelembapan tanah, sistem penyiraman otomatis, serta fertigasi terjadwal yang bisa dipantau lewat dashboard web maupun perintah suara,” ujarnya.
Greenhouse dilengkapi mikrokontroler ESP32, sensor kelembapan, sensor suhu, serta sistem pompa dan katup otomatis. Ketika kelembapan tanah turun di bawah ambang batas, sistem langsung mengaktifkan penyiraman tanpa campur tangan manual.
Dosen pendamping, Winda Apriandari, menegaskan bahwa program ini sejalan dengan kebijakan Smart Farming 4.0 Kementerian Pertanian. “Harapannya, model pertanian presisi berbasis IoT ini bisa direplikasi oleh desa-desa lain di Kabupaten Sukabumi,” katanya.
Program SWARNA merupakan kolaborasi lintas sektor antara BEM F-Saintek UMMI, Pemerintah Desa Warnasari, BUMDes Sejahtera Warnasari, Dinas Pertanian, dan Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi. Greenhouse ini sekaligus difungsikan sebagai demplot smart farming bagi kelompok tani binaan.





