SUKABUMI – IPB University Kampus Sukabumi menggaungkan gerakan peduli lingkungan melalui kegiatan IPB Green Run 2026.Menggabungkan olahraga dan kepedulian terhadap lingkungan, mahasiswa IPB University menggelar aksi unik bertajuk IPB Green Run Sukabumi 2026.
Sebanyak 300 peserta turun ke jalan mengikuti kegiatan plogging, yakni berlari santai sambil memungut sampah di sejumlah titik di Kota Sukabumi, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan ini tidak sekadar mengajak masyarakat hidup sehat melalui olahraga lari, tetapi juga menanamkan kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Menariknya, sampah yang terkumpul tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), melainkan akan diolah kembali agar memiliki nilai manfaat.
Ketua Pelaksana IPB Green Run Sukabumi 2026, Muhammad Haikal Baihaqi, menjelaskan kegiatan tersebut mengadaptasi konsep plogging yang berkembang di Swedia. Konsep ini menggabungkan aktivitas jogging dengan aksi memungut sampah sepanjang rute yang dilalui peserta.
Menurutnya, IPB Green Run Sukabumi 2026 tidak hanya berlangsung melalui kegiatan side event pada 31 Oktober, tetapi juga akan dilanjutkan dengan acara utama atau main event pada 14 November 2026 di Sekolah Vokasi IPB University, Kampus Sukabumi.
“Alhamdulillah, untuk kegiatan side event hari ini ada 300 peserta. Sementara untuk main event, kami menargetkan 450 hingga 500 peserta. Saat ini pendaftar sudah sekitar 435 orang, mayoritas merupakan mahasiswa IPB,” ujarnya.
Haikal menyebutkan, kegiatan tersebut terbuka bagi masyarakat luas, baik warga Kota Sukabumi maupun peserta dari luar daerah. Bahkan, berdasarkan komposisi pendaftar, antusiasme masyarakat umum terbilang lebih besar dibandingkan mahasiswa.
Dalam pelaksanaannya, panitia menyiapkan lima rute berbeda dengan titik awal di Balai Kota Sukabumi. Pengaturan jalur dilakukan agar aktivitas peserta tidak mengganggu mobilitas dan kegiatan masyarakat.
Hal menarik lainnya terletak pada pengelolaan sampah hasil kegiatan. Panitia menargetkan sebanyak 90 persen sampah yang terkumpul dapat dikelola kembali, sedangkan 10 persen sisanya dibawa ke TPA.
Untuk merealisasikan target tersebut, panitia berkolaborasi dengan sejumlah komunitas dan lembaga pengelola lingkungan, di antaranya Restoe Bumi dan bank sampah.
Sampah anorganik akan dipilah dan disalurkan melalui bank sampah agar dapat dimanfaatkan menjadi kerajinan maupun produk bernilai ekonomi kreatif. Sementara sampah organik akan dikelola melalui rumah maggot di kawasan Salabintana untuk dijadikan pakan maggot.
“Output kegiatan ini bukan hanya mengumpulkan sampah lalu membawanya ke TPA. Kami ingin memaksimalkan pengelolaannya, sehingga sampah yang terkumpul bisa kembali memberikan manfaat,” jelas Haikal.
Dekan Sekolah Vokasi IPB University sekaligus Pjs. Direktur Kampus IPB Sukabumi, Ir. Aceng Hidayat, menilai IPB Green Run Sukabumi merupakan bentuk pendidikan lingkungan yang diwujudkan melalui tindakan nyata.
Menurutnya, kesadaran menjaga lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui sosialisasi atau kegiatan seremonial. Namun, harus dibangun menjadi perilaku dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia berharap mahasiswa dapat menjadi contoh bagi masyarakat, terutama dalam bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan dan tidak membuang sampah sembarangan.
“Ini merupakan bagian dari edukasi dan pendidikan lingkungan. Pendidikan itu memerlukan kesadaran, dan kesadaran akan menjadi pilihan perilaku serta kebiasaan. Jadi, bukan sebatas seremoni, tetapi menjadi kebiasaan ke depannya,” ungkap Aceng.
Lebih jauh, Aceng mengungkapkan komitmennya untuk mendorong Kampus IPB Sukabumi menjadi kampus hijau yang ramah lingkungan.
Salah satu gagasan yang ingin dikembangkan adalah konsep Green Slow Living Campus, yakni lingkungan kampus yang nyaman, sehat, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Sementara itu, Asisten Daerah (Asda) III Setda Kota Sukabumi, Imran Wardhani, menyambut positif pelaksanaan IPB Green Run Sukabumi 2026.
Menurutnya, kegiatan tersebut menghadirkan dua manfaat sekaligus, yakni mendorong masyarakat menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Kegiatan yang diinisiasi mahasiswa IPB University tersebut dapat menjadi inspirasi bagi berbagai kalangan, khususnya generasi muda, untuk ikut mengambil peran dalam menjaga kebersihan Kota Sukabumi,” terangnya usai meresmikan pembukaan kegiatan di Balai Kota, Sabtu (31/10/2026) pagi.
Imran juga menyoroti persoalan sampah yang masih menjadi tantangan pemerintah daerah. Berdasarkan data yang disampaikannya, volume sampah di Kota Sukabumi rata-rata mencapai sekitar 190 ton per hari.
Dengan kondisi tersebut, diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.
“Mudah-mudahan kegiatan ini bisa mengurangi, mulai dari menyadarkan masyarakat untuk memilah dan mengurangi timbulan sampah,” pungkasnya. (wdy)



