Di sisi lain, manajemen mengimbau Bobotoh agar tidak terprovokasi melakukan aksi balasan. “Kami memahami kemarahan dan kekecewaan Bobotoh. Namun, kami mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan mempercayakan penanganan perkara kepada aparat hukum. Tindakan balasan justru berisiko memperluas persoalan,” pungkas Adhitia.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa rivalitas sepak bola seharusnya tidak berujung pada kekerasan. Keselamatan pemain muda, ofisial, dan seluruh insan sepak bola harus menjadi prioritas utama demi masa depan olahraga yang lebih sehat dan bermartabat.(*)

