SURABAYA — Kolaborasi lintas sektor menjadi sorotan dalam Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026 yang digelar di Shangri-La Hotel, Surabaya, Rabu (28/10). Panel bertajuk “Peluang Kolaborasi Media dan Industri Kreatif di Era Konten Digital” menegaskan bahwa media, pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha dapat bersinergi untuk memperkuat UMKM di era digital.
Staf Ahli Kementerian Ekonomi Kreatif, Dian Permanasari, menekankan pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) dalam pengolahan data, analisis, hingga pengembangan produk kreatif. “Media dan produksi konten digital adalah bagian dari ekosistem ekonomi kreatif,” ujarnya.
Dari sisi media, Akhyari Hananto, Editor-in-Chief Good News From Indonesia (GNFI), menegaskan media punya kekuatan bercerita dan jangkauan audiens yang bisa membantu UMKM memperkenalkan produk. GNFI mencatat 3,9 miliar tayangan pada 2025 dan menargetkan hingga 5 miliar tayangan pada 2026. Potensi ini, menurutnya, bisa menjadi peluang besar bagi UMKM.
Pemerintah daerah juga menegaskan komitmennya. Kepala UPT Pengembangan Mutu Produk Industri-Teknologi Kreatif Surabaya, Fitri Arishanty Hamsy, menyebut Jawa Timur memiliki lebih dari 870 ribu unit usaha industri, mayoritas IKM. Pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 5,84 persen, lebih tinggi dari nasional. “Penguatan IKM tidak hanya melalui kualitas produk, tetapi juga legalitas, perlindungan merek, desain kemasan, dan pemasaran digital,” jelasnya.
Dari perspektif pelaku usaha, Yayuk Eko Agustin, Founder Namira Ecoprint, menuturkan keterbatasan anggaran promosi membuat dukungan media sangat penting. Produk kain bermotif alami yang dikembangkannya membutuhkan publikasi agar dikenal lebih luas. “Dukungan media bisa membuka peluang promosi sekaligus memperluas jaringan usaha,” katanya.

