Kota Sukabumi

Dispenser dan Kulkas Jadi Incaran, DBD Kota Sukabumi Tembus 83 Kasus di Musim Kemarau

×

Dispenser dan Kulkas Jadi Incaran, DBD Kota Sukabumi Tembus 83 Kasus di Musim Kemarau

Sebarkan artikel ini

sukabumimetro.com/ – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Sukabumi, mengalami peningkatan pada Agustus 2026. Terbukti, dari data yang tercatat Dinas Kesehatan (Dinkes) sepanjang agustus terdapat sebanyak 83 kasus, naik dibandingkan pada Juli yang berada di angka 61 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Sukabumi, Denna Yuliavina mengatakan, peningkatan kasus DBD justru terjadi di tengah musim kemarau. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena masyarakat kerap menganggap risiko berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti berkurang ketika tidak banyak hujan. “Di bulan Agustus itu DBD 83 kasus dibandingkan di bulan Juli 61 kasus,” kata Denna saat disambangi Radar Sukabumi di ruang kerjanya, Selasa (1/9).

Berdasarkan data Dinkes Kota Sukabumi, dari total 83 kasus DBD pada Juli 2026, terdapat 40 kasus pada laki-laki dan 43 kasus pada perempuan. Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, sebanyak tujuh kasus terjadi pada usia 1 sampai 4 tahun, 24 kasus usia 5 sampai 14 tahun, 33 kasus usia 15 sampai 44 tahun, serta 19 kasus pada usia 45 tahun ke atas.

Meski kasus mengalami kenaikan, Denna menyebut tidak terdapat kasus kematian akibat DBD. Dalam periode Januari hingga minggu ke-33 Agustus 2026, angka kematian akibat DBD tercatat nol kasus. Kondisi tersebut diharapkan dapat dipertahankan hingga akhir tahun. “Alhamdulillah dari Januari, periode Januari sampai minggu ke-33 Agustus itu nol kasus. Mudah-mudahan sampai akhir tahun tidak ada kasus kematian,” ujarnya.

Menurut Denna, musim kemarau bukan berarti ancaman DBD menghilang. Genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk masih dapat ditemukan di berbagai lokasi, termasuk tempat penampungan air rumah tangga. “Bahkan, wadah yang berisi air bersih justru dapat menjadi lokasi berkembangnya jentik nyamuk DBD,” paparnya.

Ia mengingatkan warga untuk memeriksa tempat-tempat yang sering luput dari perhatian, seperti wadah penampungan air di belakang kulkas, bagian dispenser yang menampung tetesan air, tempat minum burung, vas bunga hingga wadah lain yang memungkinkan air tergenang. “DBD itu hidup di air bersih. Jadi walaupun rumah sudah dibersihkan, tetap perlu diperiksa tempat-tempat yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” jelasnya.

Pihaknya, menekankan penanganan utama DBD bukan semata-mata melalui fogging, melainkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M Plus. “Masyarakat bisa berupaya menutup tempat penampungan air, menguras secara rutin, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air, serta melakukan langkah tambahan seperti menggunakan losion antinyamuk dan kelambu bila diperlukan,” cetusnya.

Denna juga mendorong kembali gerakan Jumsih atau Jumat Bersih sebagai kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk. Pembersihan lingkungan secara rutin, terutama minimal sepekan sekali, dinilai penting karena telur nyamuk dapat berkembang menjadi nyamuk dewasa dalam waktu relatif singkat.

“Jumsih itu bagus. Seminggu sekali, apalagi dilakukan bersama-sama dan dipandu RT atau RW. Gerakan Jumsih bersama itu bagus banget,” pungkasnya. (bam)