Artikel

Dijual Murah

×

Dijual Murah

Sebarkan artikel ini

INI Cerita Fiksi di Hari Sabtu. Jangan dibaca kalau tidak Suka. Jangan Tersinggung. Opini Murah. Jadi Ada orang yang dulu tersisih. Tidak punya tempat. Tidak punya panggung. Lalu ada perusahaan yang membuka pintu, memberi kursi, memberi kesempatan. Seperti orang yang kehausan lalu diberi segelas air. Tapi setelah segelas itu habis, ia bukan berterima kasih. Ia malah mengambil kendi, lalu menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Itulah wajah orang yang menjadikan perusahaan sebagai batu loncatan. Bukan rumah. Bukan ladang bersama. Ia datang bukan untuk menanam, melainkan untuk memetik. Ia bekerja bukan untuk membangun, melainkan untuk memanfaatkan.

Saya berfikir sederhana. Dia Seperti tamu yang diberi kamar, tapi malah menjual kasur. Seperti penumpang yang diberi tiket gratis, tapi malah menjual kursinya di pasar gelap. Seperti murid yang diberi buku, tapi hanya menyalin untuk membuka usaha fotokopi sendiri.

Kerja orang seperti ini hanya sebatas “asal bos senang.” Ia tahu cara menunduk, tahu cara tersenyum, tahu cara membuat seolah-olah sibuk. Tapi tanggung jawab? Tidak ada. Dedikasi? Kosong.

Perusahaan yang merangkul orang seperti ini ibarat membuka pintu rumah bagi orang yang kedinginan. Tapi setelah hangat, orang itu malah mencuri kayu bakar, lalu menjualnya di luar.

Dalam filsafat Timur, ada pepatah: “Kesempatan adalah amanah.” Tapi bagi orang seperti ini, kesempatan hanyalah kendaraan. Ia tidak peduli jalan yang ditempuh. Yang penting sampai ke tujuan pribadinya.

Maka lahirlah ironi: perusahaan yang memberi tempat, justru dijadikan alat. Perusahaan yang memberi panggung, justru dijadikan latar belakang. Ia tidak pernah benar-benar hadir untuk perusahaan. Ia hadir untuk dirinya sendiri.

Pada akhirnya, perusahaan tidak butuh pekerja yang pandai berpura-pura. Perusahaan butuh orang yang mau menyalakan api, bukan sekadar menikmati hangatnya. Karena api yang dinyalakan akan memberi terang bagi semua, sementara hangat yang dinikmati sendiri akan padam begitu angin datang.

orang yang diberi tempat, tapi tidak tahu cara menjaga tempat itu. Orang yang diberi kesempatan, tapi hanya menjadikannya kendaraan pribadi.

Itulah wajah pekerja yang tidak bekerja. Ia bukan karyawan. Ia pedagang. Dagangannya adalah kepercayaan. Dan kepercayaan itu ia jual murah.(*)

Artikel

ADA yang lebih menakutkan dari sekadar tamparan fisik:…

Artikel

TIGA Itu bukan sekadar angka. Itu adalah rentang…