Pendidikan

STIKes Sukabumi Raih Kelulusan Uji Kompetensi Ners 92,19 Persen

×

STIKes Sukabumi Raih Kelulusan Uji Kompetensi Ners 92,19 Persen

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI – STIKes Sukabumi mencatat capaian kelulusan uji kompetensi Ners sebesar 92,19 persen. Hasil ini menjadi dorongan bagi kampus untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan keperawatan sekaligus menyiapkan lulusan yang kompeten dan profesional.

Ketua Prodi S1 Keperawatan dan Profesi Ners STIKes Sukabumi Lia Novianty, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari proses pendidikan yang menggabungkan pembelajaran teori, praktikum laboratorium, praktik klinik, serta evaluasi kompetensi secara berkelanjutan.

Menurut Lia, keberhasilan mahasiswa melewati uji kompetensi bukan sekadar pencapaian angka kelulusan.  Lebih dari itu, hasil tersebut menjadi salah satu indikator upaya kampus dalam mempersiapkan tenaga keperawatan yang mampu memberikan pelayanan kesehatan secara aman dan bermutu.

“Capaian 92,19 persen bukan hanya prestasi yang patut disyukuri, tetapi juga motivasi untuk terus meningkatkan mutu pendidikan keperawatan di STIKes Sukabumi,” ujarnya.

Lia menjelaskan, capaian kelulusan uji kompetensi Ners didukung berbagai faktor, mulai dari kualitas pembelajaran, pendampingan dosen, pengalaman praktik klinik, hingga motivasi dan kedisiplinan mahasiswa.

STIKes Sukabumi juga memperkuat pembelajaran berbasis kasus agar mahasiswa terbiasa menganalisis persoalan klinis dan menentukan tindakan berdasarkan kondisi pasien.

Di samping itu, pengalaman praktik klinik menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori dengan situasi nyata di fasilitas pelayanan kesehatan.

Untuk meningkatkan kesiapan mahasiswa menghadapi uji kompetensi, kampus mengoptimalkan program tryout, pengkayaan materi, latihan soal, pembahasan rasional jawaban, serta bimbingan kelompok kecil.

Melalui tryout, mahasiswa dapat mengenali pola soal, melatih pengelolaan waktu, dan mengukur kesiapan sebelum mengikuti ujian sesungguhnya.

Sementara itu, kegiatan pengkayaan membantu memperkuat pemahaman materi. Mahasiswa yang mengalami kesulitan pada kompetensi tertentu juga mendapatkan pendampingan yang lebih terarah.

“Persiapan uji kompetensi tidak dilakukan secara mendadak, tetapi menjadi bagian dari sistem pembelajaran dan penjaminan mutu pendidikan,” jelas Lia.

Selain program persiapan ujian, STIKes Sukabumi menekankan pentingnya sinergi antara dosen dan pembimbing klinik dalam membentuk kompetensi mahasiswa.

Dosen berperan memperkuat pemahaman teori dan penalaran klinis melalui pembelajaran berbasis kasus. Adapun pembimbing klinik membantu mahasiswa menerapkan pengetahuan tersebut dalam praktik, mulai dari pengkajian, penyusunan asuhan keperawatan, hingga evaluasi kondisi pasien.

Mahasiswa juga dibekali etika profesi, komunikasi terapeutik, kerja sama tim, dokumentasi keperawatan, serta prinsip keselamatan pasien.

Menurut Lia, keseimbangan antara kemampuan akademik, keterampilan klinis, dan sikap profesional menjadi fondasi penting dalam pendidikan keperawatan.

Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan tidak hanya mampu melewati uji kompetensi, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia kerja dan memberikan pelayanan yang humanis sesuai standar profesi serta kewenangannya.

Bagi STIKes Sukabumi, capaian kelulusan 92,19 persen menjadi bahan evaluasi untuk mempertahankan keberhasilan sekaligus memperbaiki aspek pembelajaran yang masih perlu ditingkatkan.

Evaluasi berkala diperlukan agar kampus dapat memetakan kemampuan mahasiswa, menentukan kebutuhan pendampingan, dan memastikan proses pembelajaran berjalan efektif.

Lia berharap pencapaian tersebut menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus memperkuat mutu pendidikan keperawatan.

Ia menegaskan bahwa tujuan pendidikan tidak berhenti pada kelulusan uji kompetensi.  “Lulusan juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan secara tepat, serta memberikan asuhan keperawatan yang aman, bermutu, dan bertanggung jawab,” pungkasnya. (wdy)