BANDUNG — Sikap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terhadap isu lingkungan kembali menjadi sorotan publik. Sebelumnya, Dedi menangis saat melihat kondisi kawasan hutan Puncak, Bogor, yang dimanfaatkan untuk rekreasi hingga pembangunan fasilitas di antara pepohonan. Namun, sikapnya terhadap proyek pusat data berbasis artificial intelligence (AI) di Jatiluhur, Purwakarta, dinilai berbeda.
Proyek data center AI senilai Rp3,5 triliun itu sempat dihadiri Dedi dalam agenda peresmian. Ironisnya, pembangunan kini dihentikan sementara oleh Pemprov Jabar karena dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) belum rampung. Kepala Diskominfo Jabar, Adi Komar, menyebut izin tersebut masih dalam proses di Kabupaten Purwakarta.
Dedi menegaskan bahwa persoalan Puncak dan Jatiluhur tidak bisa disamakan. “Itu beda ceritanya, konteksnya beda. Saya waktu yang di Bogor mengikuti kegiatan Menteri Lingkungan Hidup dan Menko Zulhas. Mereka menyegel bangunan karena provinsi tidak punya kewenangan menyegel,” ujarnya di Bandung, Sabtu (3/10).
Ia menjelaskan alasannya menangis di Puncak karena prihatin melihat hutan dijadikan sarana rekreasi, termasuk adanya jembatan gantung di atas pepohonan. “Saya keberatan kenapa hutan dijadikan sarana rekreasi di mana posisi orang berada di atas pohon. Itu enggak boleh,” tegasnya. Dedi menambahkan, Pemprov Jabar hanya mengeksekusi satu objek, yakni Hibisc Fantasy milik PT Jaswita, karena berada di bawah kewenangan provinsi.