SUKABUMI – STIKes Sukabumi terus memperluas jejaring internasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan dan memperkuat daya saing global.
Melalui kerja sama dengan dua perguruan tinggi di Malaysia, kampus ini membuka peluang kolaborasi akademik, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat lintas negara.
Ketua STIKes Sukabumi, Iwan Permana, mengatakan, kerja sama internasional menjadi salah satu langkah strategis dalam mewujudkan visi kampus sebagai perguruan tinggi yang berdaya saing global.
Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi luar negeri tidak cukup hanya melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).
Kerja sama tersebut harus diwujudkan dalam program nyata yang berdampak terhadap peningkatan kompetensi mahasiswa dan kualitas institusi.
“Kerja sama internasional ini bertujuan memperkuat daya saing global institusi, meningkatkan kualitas Tridharma Perguruan Tinggi, serta memperluas jejaring internasional,” ujar Iwan.
Saat ini, STIKes Sukabumi menjalin kerja sama dengan INTI International University dan . Kemitraan tersebut menjadi pintu masuk untuk memperluas pertukaran pengetahuan, pengalaman akademik, serta praktik pendidikan dan pelayanan kesehatan di tingkat internasional.
Implementasi kerja sama STIKes Sukabumi dengan perguruan tinggi Malaysia dilakukan melalui sejumlah kegiatan akademik. Salah satunya, program lecture atau perkuliahan yang memberikan kesempatan kepada dosen untuk menyampaikan materi kepada mahasiswa di kampus mitra.
Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pertukaran pengetahuan, tetapi juga membuka ruang berbagi pengalaman dalam pengembangan pendidikan kesehatan.
Rangkaian kegiatan juga mencakup kunjungan dan edukasi kesehatan bagi pasien lanjut usia di Rumah Jagaan dan Rawatan Orang Tua Al-Ikhlas, Selangor, Malaysia.
Dalam kegiatan tersebut, rombongan STIKes Sukabumi memperoleh pengalaman mengenai pendekatan pelayanan dan edukasi kesehatan bagi kelompok lanjut usia.
Pengalaman ini sekaligus memperkenalkan sivitas akademika pada praktik pelayanan kesehatan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berbeda.
Selain itu, kunjungan ke rumah sakit setempat menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan tentang sistem dan praktik pelayanan kesehatan di Malaysia.
Berbagai kegiatan tersebut diharapkan menjadi pengalaman pembelajaran yang memperkaya perspektif akademik sekaligus mendukung pengembangan kompetensi di bidang kesehatan.
Menurutnya, implementasi MoU perlu diarahkan pada program berkelanjutan agar manfaat kolaborasi dapat dirasakan secara langsung oleh dosen, mahasiswa, maupun institusi dengan begitu, seluruh program studi di lingkungan STIKes Sukabumi dapat menindaklanjuti kerja sama internasional sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Sejumlah program yang berpotensi dikembangkan meliputi kuliah pakar dengan menghadirkan akademisi luar negeri, kolaborasi penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran mahasiswa, hingga partisipasi dalam konferensi internasional.
“Harapannya, seluruh program studi dapat mengimplementasikan kerja sama ini sesuai bidang masing-masing. Dengan begitu, MoU yang telah dibangun tidak berhenti pada dokumen, tetapi benar-benar menghasilkan kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas Tridharma Perguruan Tinggi dan daya saing global,” ungkapnya.
Melalui penguatan kerja sama internasional ini, STIKes Sukabumi menargetkan semakin terbukanya kesempatan bagi dosen dan mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan akademik lintas negara. (wdy)





