Pendidikan

Guru Sukabumi Sulap Pelajaran Pancasila Jadi Seru Lewat Lagu dan Wordwall

×

Guru Sukabumi Sulap Pelajaran Pancasila Jadi Seru Lewat Lagu dan Wordwall

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI – Belajar Pendidikan Pancasila tak harus selalu menghafal lima sila di depan kelas. Melalui lagu dan permainan digital, Ekalia Marlianti, guru kelas II SDN Pintu Kisi, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan, interaktif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Inovasi bertajuk Dari Simbol Menjadi Aksi: Pendidikan Pancasila melalui Nada dan Aplikasi Wordwall itu mengantarkan Ekalia meraih Juara I kategori Guru SD Inovatif dan Transformatif dalam kegiatan GTK 2026 tingkat Kota Sukabumi.

Capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Ekalia. Ia mengaku tak menyangka inovasi yang baru diterapkannya selama kurang lebih satu bulan itu mampu mengantarkannya meraih penghargaan tertinggi di kategorinya.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Ini semua tidak terlepas dari dukungan sahabat, rekan sejawat, terutama kepala sekolah, Bapak Wahyudi, yang membantu proses implementasi inovasi di kelas,” ungkap Ekalia.

Ia mengaku sempat tidak percaya ketika namanya diumumkan sebagai juara pertama. Menurutnya, banyak guru sekolah dasar di Kota Sukabumi memiliki kreativitas dan inovasi yang luar biasa.

Awalnya, Ekalia hanya ingin mencoba menerapkan inovasi pembelajaran di kelas sekaligus berbagi pengalaman dalam momentum Hari Guru Nasional (HGN) 2026. Namun, upaya sederhana yang berangkat dari kebutuhan siswa itu justru mendapat apresiasi.

Ide inovasi tersebut muncul dari pengamatannya terhadap karakteristik siswa kelas II sekolah dasar. Anak-anak seusia itu cenderung menyukai kegiatan bernyanyi dan bermain. Sebaliknya, pembelajaran yang terlalu banyak mengandalkan metode ceramah berpotensi membuat mereka kurang bersemangat.

Ekalia kemudian merancang pembelajaran Pendidikan Pancasila melalui lagu dengan lirik yang disesuaikan dengan materi lima sila. Nada yang digunakan dibuat akrab di telinga anak-anak sehingga mereka lebih mudah mengikuti dan mengingat isi pembelajaran.

Melalui cara tersebut, siswa tidak sekadar menghafal bunyi sila pertama hingga kelima, tetapi juga mulai mengenali makna nilai-nilai Pancasila dengan cara yang menyenangkan.

Untuk memperkuat proses belajar, Ekalia memanfaatkan aplikasi Wordwall sebagai media permainan edukatif. Aplikasi ini menghadirkan aktivitas interaktif yang membuat siswa lebih terlibat selama pembelajaran berlangsung.

Hasilnya, suasana kelas menjadi lebih hidup. Siswa terlihat lebih antusias, tidak mudah bosan, dan lebih aktif mengikuti kegiatan belajar. Materi yang disampaikan pun lebih mudah dipahami.

“Anak-anak memang lebih senang bernyanyi dan bermain. Ketika pembelajaran disesuaikan dengan dunia mereka, responsnya sangat baik. Mereka lebih semangat dan lebih cepat memahami materi,” tuturnya.

Bagi Ekalia, keberhasilan pembelajaran Pendidikan Pancasila bukan semata-mata ketika siswa mampu menyebutkan kelima sila dengan lancar. Hal yang lebih penting ialah bagaimana nilai-nilai tersebut tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Selama ini, Pancasila kerap identik dengan kegiatan menghafal, termasuk saat siswa diminta menyebutkan lima sila dalam kegiatan rutin setiap Senin. Padahal, nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan melalui tindakan sederhana yang mereka lakukan setiap hari.

Sila pertama, misalnya, dapat diwujudkan dengan berdoa sebelum belajar. Nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan juga dapat diperkenalkan melalui perilaku nyata di lingkungan sekolah maupun rumah.

Pendekatan inilah yang menjadi inti inovasi Ekalia. Ia ingin siswa memahami bahwa Pancasila bukan sekadar simbol atau rangkaian kalimat yang harus diingat, melainkan pedoman dalam bersikap dan bertindak.

“Teknologi saya manfaatkan bukan hanya supaya pembelajaran terlihat modern, tetapi sebagai sarana agar materi lebih dekat dengan dunia anak dan meningkatkan keterlibatan mereka. Namun, penerapan nilai Pancasila dalam keseharian tetap lebih utama,” jelasnya.

Karena itu, penggunaan Wordwall tidak dilakukan secara berlebihan. Permainan digital menjadi sarana untuk meningkatkan motivasi dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sedangkan pembentukan karakter tetap ditekankan melalui pembiasaan dan keteladanan.

Dalam pelaksanaannya, Ekalia juga menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan serta respons murid. Pengalaman tersebut menguatkan keyakinannya bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar atau menggunakan teknologi yang rumit.

Justru, perubahan dapat berangkat dari persoalan sederhana yang dijumpai guru ketika mendampingi siswa di kelas.

Penghargaan GTK 2026 menjadi motivasi bagi Ekalia untuk terus mengembangkan pembelajaran yang kreatif dan bermakna. Setelah menghadirkan inovasi Pendidikan Pancasila melalui lagu dan permainan digital, ia mulai menyiapkan gagasan berikutnya di bidang literasi anak.

Menurutnya, guru perlu terus belajar dan beradaptasi dengan kebutuhan peserta didik. Setiap anak memiliki karakteristik berbeda sehingga pendekatan pembelajaran pun perlu disesuaikan agar materi dapat diterima secara optimal.

Ia berpesan agar para guru tidak berhenti bersemangat dan berinovasi. Guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga menjadi sosok yang perilaku dan tindakannya layak diteladani oleh siswa.

“Semua guru itu hebat. Jangan pernah berhenti bersemangat dan berinovasi. Kita harus menunjukkan kepada anak-anak bahwa kita adalah sosok yang patut dicontoh,” pesannya.

Ekalia mengajak para pendidik memulai inovasi dari hal paling dekat, yakni kebutuhan murid di kelas. Guru perlu mengamati kesulitan yang dihadapi siswa, hal-hal yang menarik perhatian mereka, serta pengalaman belajar yang dapat membantu mereka memahami pelajaran dengan lebih baik. (wdy)