KANTOR itu harusnya seperti pasar, tentu ramai, penuh transaksi, penuh bisik-bisik. Ada yang datang untuk bekerja, ada yang datang untuk mencari kesempatan. Ada pula yang datang hanya untuk memperkaya diri sendiri. Begitu lahan basah digeser, marah-marah. Begitu posisi hilang, langsung merasa dizalimi. Padahal, kerja kompak itu mahal. Yang murah justru saling menjatuhkan.
Saya melihat, di banyak perusahaan diluar sana, karyawan lebih sibuk mengatur strategi menjatuhkan rekan kerja daripada mengatur strategi memenangkan pasar. Seperti pertandingan sepak bola, tapi bukan melawan tim lawan melainkan melawan teman sendiri.
Ada yang lihai memainkan jurus sikut kanan, sikut kiri. Ada yang pandai menebar rumor, seperti pedagang yang menjual gosip lebih mahal daripada barang dagangan. Ada pula yang rajin menghadap atasan, bukan untuk melaporkan progres kerja, melainkan progres menjatuhkan kolega.
Lahan basah itu seperti sawah subur. Semua ingin menanam di sana. Semua ingin panen di sana. Begitu digeser ke lahan kering, langsung merasa tidak adil. Padahal, bekerja di lahan kering pun bisa menghasilkan, asal mau berusaha. Tapi siapa yang mau? Ego lebih besar daripada kerja.
Saya jadi teringat analogi sederhana. Membangun jembatan, butuh banyak orang, butuh banyak tenaga, butuh kesabaran. Tapi menjatuhkan jembatan? Cukup satu orang yang menendang tiang penyangga. Hancur sudah.
Fenomena ini membuat saya bertanya-tanya: mengapa kita lebih pandai menjatuhkan daripada mengangkat? Mengapa lebih mudah menyikut daripada merangkul? Apakah karena budaya kita sudah terbiasa dengan kompetisi internal yang tidak sehat? Atau karena kita terlalu takut kehilangan lahan basah, sehingga lupa bahwa kerja sejati bukan soal basah atau kering, melainkan soal kontribusi?
Kantor seharusnya jadi tempat tumbuh bersama. Tempat di mana ide-ide bertemu, bukan bertabrakan. Tempat di mana karyawan saling menguatkan, bukan saling melemahkan. Tapi kenyataannya, banyak kantor justru jadi arena tinju.
Mungkin kita perlu belajar dari gotong royong desa. Di sana, orang membangun rumah bersama. Tidak ada yang saling sikut. Tidak ada yang marah karena lahan basah digeser. Semua bekerja, semua berkontribusi.
Kalau saja budaya itu bisa dibawa ke kantor, mungkin kita tidak lagi sibuk menjatuhkan. Mungkin kita akan sibuk mengangkat. Dan siapa tahu, perusahaan akan lebih cepat maju. Karena sejatinya, kerja kompak itu bukan sekadar slogan. Ia adalah fondasi. Tanpa itu, kantor hanya akan jadi pasar gosip, bukan pasar ide. (*)