Kabupaten Sukabumi

Ojol Sukabumi Desak Polisi Tindak Tegas Geng Motor, Pengemudi Tak Berani Beroperasi Malam Hari

×

Ojol Sukabumi Desak Polisi Tindak Tegas Geng Motor, Pengemudi Tak Berani Beroperasi Malam Hari

Sebarkan artikel ini
Ojol Sukabumi
Perwakilan Forum Diskusi Ojol Sukabumi Raya, Fitria Ihsan

SUKABUMI – Maraknya aksi geng motor yang dinilai semakin meresahkan membuat para pengemudi ojek online (ojol) di Sukabumi mendesak aparat kepolisian untuk bertindak lebih tegas.

Langkah ini diambil menyusul bentrokan antargeng motor di kawasan Jalan Raya Sukaraja hingga Jalan MH. Holil pada Minggu (2/8/2026) dini hari, yang mengakibatkan dua warga sipil salah satunya pengemudi ojol mengalami luka bacok senjata tajam.

Kondisi tersebut tidak hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga berdampak pada menurunnya pendapatan para pengemudi karena banyak yang memilih menghentikan aktivitas pada malam hingga dini hari.

Perwakilan Forum Diskusi Ojol Sukabumi Raya, Fitria Ihsan kepada Radar Sukabumi mengatakan, bahwa keresahan terhadap aksi geng motor ini, telah membuat cemas bagi masyarakat, khususnya para pengemudi ojol yang beroperasi selama 24 jam.

Menurutnya, melalui surat terbuka yang disampaikan kepada aparat penegak hukum, para pengemudi meminta Polres Sukabumi Kota bersama Kodim 0607/Kota Sukabumi, meningkatkan upaya pemberantasan geng motor agar keamanan di wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi dapat kembali kondusif.

“Kami meminta pihak kepolisian benar-benar memberantas geng motor. Keresahan ini sudah berlangsung lama, bukan hanya sekarang. Setelah ditangkap sering muncul lagi. Kami berharap penegakan hukumnya dilakukan secara tegas agar memberikan efek jera,” kata Fitria kepada Radar Sukabumi pada Selasa (04/08).

Ia mengungkapkan, aksi kekerasan yang diduga dilakukan kelompok geng motor juga telah memakan korban dari kalangan pengemudi ojol. Salah seorang pengemudi Grab menjadi korban pembacokan saat bentrokan yang terjadi di kawasan Kampung Inggris, Kecamatan Sukaraja, pada Minggu dini hari.

Selain korban pembacokan, Fitria menyebut para pengemudi juga kerap mengalami intimidasi saat melintas pada malam hari.
Menurutnya, kelompok tersebut beberapa kali terlihat membawa senjata tajam seperti samurai, arit hingga balok yang dipertontonkan di jalan sehingga menimbulkan ketakutan bagi pengguna jalan.

Ia menuturkan, keberadaan geng motor paling sering dijumpai pada malam Sabtu dan malam Minggu. Jika sebelumnya para pengemudi hanya melihat kelompok tersebut melintas, belakangan ojol mulai menjadi sasaran aksi kekerasan.

Situasi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi para pengemudi. Banyak pengemudi memilih menghentikan operasional pada malam hingga dini hari demi menghindari risiko menjadi korban.

“Biasanya kami bisa beroperasi sampai malam bahkan pagi hari. Sekarang banyak yang berhenti lebih awal karena khawatir. Akibatnya pendapatan juga jelas berkurang,” katanya.

Fitria menambahkan, sebagai langkah antisipasi internal, Forum Diskusi Ojol Sukabumi Raya mengimbau seluruh pengemudi untuk selalu mengenakan atribut resmi saat bekerja serta bergabung dengan komunitas agar lebih mudah berkoordinasi ketika menghadapi situasi darurat.

Meski sebelumnya para pengemudi telah menjalin kemitraan dengan kepolisian dalam upaya pencegahan aksi geng motor, menurutnya peran tersebut masih sebatas memberikan informasi kepada aparat melalui layanan darurat 110.

“Untuk itu, kami para pengemudi berharap aparat dapat meningkatkan patroli dan mengambil tindakan hukum yang lebih tegas sehingga masyarakat, termasuk pengemudi ojol, dapat kembali beraktivitas dengan aman tanpa dihantui ancaman geng motor,” pungkasnya. (Den)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *