Pendidikan

Nurhayati, Kepala SMPN 12 Kota Sukabumi Juara Apresiasi GTK 2026 Berkat Inovasi Seliter Jamu

×

Nurhayati, Kepala SMPN 12 Kota Sukabumi Juara Apresiasi GTK 2026 Berkat Inovasi Seliter Jamu

Sebarkan artikel ini

Kepala SMP Negeri 12 Kota Sukabumi, Nurhayati, menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih peringkat pertama tingkat Kota Sukabumi dalam ajang Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Tahun 2026 kategori Kepala Sekolah Transformatif.

Prestasi tersebut diraih melalui inovasi pembelajaran bertajuk “Seliter Jamu”, akronim dari Strategi Penguatan Literasi, Numerasi, dan Karakter melalui Penjaminan Mutu. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus membangun karakter murid melalui pendekatan yang terukur dan berkelanjutan.

Nurhayati menjelaskan, gagasan Seliter Jamu berangkat dari hasil analisis Rapor Pendidikan SMPN 12 Kota Sukabumi tahun 2025. Hasil pemetaan menunjukkan capaian numerasi dan karakter murid masih berada pada kategori sedang, sementara sejumlah indikator lainnya telah mencapai kategori baik.

Kondisi tersebut mendorong sekolah melakukan penguatan pembelajaran melalui Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Terlebih, SMPN 12 Kota Sukabumi ditunjuk sebagai sekolah percontohan SPMI pada 2026.

“Alhamdulillah, saya merasa senang dan bangga atas pencapaian terbaik di tingkat Kota Sukabumi. Semoga penghargaan ini menjadi motivasi bagi saya dan seluruh warga sekolah untuk terus bertransformasi melalui berbagai inovasi,” ujar Nurhayati.

Ia menerangkan, penguatan literasi sebenarnya telah dilakukan sejak 2024 melalui program Carangtakol, akronim dari Baca, Rangkum, Ceritakan pada Kelompok, serta Pinter atau Program Intensif Literasi.

Melalui Seliter Jamu, program tersebut diperkuat dengan peningkatan kemampuan numerasi dan karakter, khususnya nalar kritis. Pelaksanaannya mulai diperkuat pada Agustus 2026 melalui siklus penjaminan mutu yang melibatkan seluruh warga sekolah.

Salah satu perubahan penting dari program ini adalah keterlibatan semua guru mata pelajaran dalam mengintegrasikan literasi, numerasi, dan karakter ke dalam kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler. Dengan demikian, penguatan ketiga aspek tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab guru bahasa, matematika, atau pendidikan agama dan kewarganegaraan, tetapi seluruh pendidik.

Dampaknya mulai terlihat dalam proses pembelajaran. Berdasarkan refleksi murid, kegiatan belajar menjadi lebih menarik, materi lebih mudah dipahami, dan siswa semakin aktif serta antusias mengikuti pembelajaran.

Hasil asesmen pretest dan posttest pada aspek numerasi dan karakter nalar kritis juga menunjukkan peningkatan. Nilai capaian naik dari 43,91 menjadi 71,00 atau meningkat 27,09 poin.

Menurut Nurhayati, keberhasilan program tidak terlepas dari dukungan guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua, komite sekolah, serta pengawas pembina. Komitmen bersama yang dibangun sejak awal menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan inovasi tersebut.

Ia berharap Seliter Jamu dapat menjadi praktik baik yang diadopsi sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan sesuai kebutuhan masing-masing.

“Guru yang hebat bukan hanya guru yang paling pintar, tetapi guru yang tidak berhenti berinovasi untuk muridnya. Inovasi bukan tentang alat atau media yang canggih, melainkan tentang hati yang tidak berhenti peduli,” pungkasnya.(wdy)