SUKABUMI – Kedusunan Padaraang, Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, mengalami krisis air bersih dampak dari musim kemarau panjang. Hal ini bukan lagi sekadar fenomena tahunan, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup ribuan warganya
Berdasarkan data yang tercatat di pemerintah Desa Kebonmanggu, sedikitnya 1.800 jiwa dari 700 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di 3 RW dan 9 RT kini harus berjuang keras hanya demi mendapatkan beberapa liter air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi geografis Kampung Padaraang yang berada di perbukitan dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl) serta struktur tanah yang dominan tandus menjadi faktor utama sulitnya sumber air bawah tanah ditembus. Saat kemarau tiba, mata air warga mengering seketika, memaksa warga bergantung penuh pada bantuan pasokan dari luar.
Kepala Desa Kebonmanggu, Rasnita Diharja kepada Radar Sukabumi mengatakan, bahwa kondisi krisis air di wilayahnya sudah masuk dalam taraf yang sangat mengkhawatirkan. Pihak pemerintah desa terus berpacu dengan waktu untuk menyalurkan bantuan darurat ke titik-titik pemukiman terparah.
“Sebagai Kepala Desa, saya sangat riskan melihat kondisi warga. Hampir setiap minggu kami tidak berhenti mengajukan permohonan bantuan armada tangki air bersih ke berbagai instansi, mulai dari BPBD, Baznas, hingga PDAM Gunungguruh,” ujar Rasnita Diharja saat dikonfirmasi Radar Sukabumi terkait dampak kemarau di wilayahnya pada Minggu (11/10).
Tak hanya mengandalkan lembaga pemerintah, Rasnita juga menggalang sinergi dengan sektor swasta dan elemen masyarakat lainnya. Bantuan tangki air rutin dikirimkan oleh pihak swasta seperti PT Seraya hingga elemen partai politik untuk menyuplai kebutuhan air bersih warga di Kedusunan Padaraang setiap minggunya.
Krisis air di Padaraang sebenarnya bukan tanpa upaya penanganan. Rasnita menjelaskan, pihak Pemerintah Desa Kebonmanggu telah berupaya melakukan langkah antisipasi sejak beberapa tahun lalu. Pada tahun 2019, memanfaatkan alokasi dana P3K dari kecamatan, pemerintah desa telah membangun sarana air bersih yang bersumber dari embung desa.
Selain itu, kerja sama dengan Dinas Perkim Kabupaten Sukabumi juga dilakukan untuk merealisasikan program pengeboran sumur artesis di area tersebut. Namun, besarnya volume kebutuhan warga dibanding debit air yang berhasil didapatkan membuat sarana yang ada belum mampu mencukupi secara merata.
Tingginya keterdesakan warga akan kebutuhan primer ini, bahkan kerap memicu persoalan teknis di lapangan. “Karena air ini kebutuhan mendasar dan utama, warga yang tidak kebagian kadang-kadang secara tidak sengaja merusak jaringan instalasi pipanisasi yang ada. Pengeboran sumur pun sudah ada, tetapi debitnya tetap tidak mencukupi untuk mengover seluruh populasi di Padaraang,” jelas Rasnita.
Di tengah keterbatasan pasokan bantuan armada tangki, warga Padaraang terpaksa menempuh cara-cara darurat. Bila bantuan belum tiba, pilihan satu-satunya bagi warga adalah berebut mencari ceruk mata air alami yang tersisa di area ceruk perbukitan yang lebih rendah.
Warga harus menempuh jarak hingga 1 kilometer (1.000 meter) melewati kontur jalan perbukitan yang curam demi menjangkau mata air tersebut. Moda transportasi roda dua menjadi andalan utama warga untuk mengangkut galon dan jeriken penampung air.
“Untuk kebutuhan harian yang sangat mendasar, warga terpaksa turun ke lokasi mata air di tempat yang lebih rendah. Jaraknya sekitar satu kilometer dari pemukiman. Mereka mengangkut jeriken dan galon menggunakan sepeda motor,” pungkas Rasnita.
Krisis air di Kedusunan Padaraang menjadi potret nyata perlunya penanganan infrastruktur air bersih yang berkelanjutan dan terintegrasi di wilayah perbukitan Sukabumi. Warga berharap, pemerintah daerah beserta instansi terkait dapat segera merumuskan solusi permanen agar warga Padaraang tak lagi harus bertaruh nasib setiap kali musim kemarau menyapa. (Den)