PURWAKARTA – Diinformasikan, bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda menimbulkan dampak yang luas. Bahkan pihak Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyebutkan abu vulkanik anak Krakatau terpantau menyebar di provinsi Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.
Seperti diketahui di Jawa Barat, terdapat beberapa wilayah yang mengalami sebaran abu vulkanik anak Krakatau tersebut, seperti di Sukabumi, Bogor, Kota Depok, Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan sebagian di wilayah Kabupaten Purwakarta.
Untuk itu, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purwakarta, menyampaikan informasi sekaligus imbauan kepada masyarakat di wilayah Purwakarta melalui grup WhatsApp, jika terjadi kemungkinan menghadapi abu vulkanik anak Krakatau.
Berikut ini 7 langkah kesiapsiagaan atau antisipasi yang disampaikan BPBD Purwakarta untuk masyarakat jika menghadapi abu vulkanik, yaitu:
1. Gunakan masker N95/KN95, karena masker jenis ini mampu menyaring partikel abu vulkanik dengan baik dan melindungi saliran pernapasan.
2. Tutup pintu, jendela dan ventilasi dengan plastik, peredam atau kain basah.
3. Hindari menggosok mata jika terkena abu vulkanik.
4. Gunakan kaca mata pelindung (pilih kaca mata yang rapat di wajah).
5. Batasi aktivitas di luar rumah (jika tidak mendesak).
6. Bersihkan abu vulkanik dengan metode yang aman, seperti disapu, disiram air atau menggunakan lap basah.
7. Pantau informasi resmi, seperti melalui BPBD, Pemerintah Kab/Kota, BNPB, BMKG, dan institusi berwenang.
Sementara itu, melansir keterangan yang disampaikan oleh Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, bahwa abu vulkanik anak Krakatau telah menyebar ke arah lima provinsi.
“Abu vulkanik Anak Krakatau terpantau menyebar ke arah Banten, sebagian Jawa Barat dan DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu,” ungkap Lana, pada Minggu (6/9/2026)
Ia menegaskan, informasi ini diperoleh dari gabungan data aktivitas erupsi dan vulkanik PVMBG melalui MAGMA Indonesia, laporan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 oleh BMKG.
Potensi dampak lebih luas bisa terjadi jika kolom erupsi semakin tinggi atau durasi letusan lebih lama. Hal ini dapat berisiko mengganggu pada jalur penerbangan, maupun pada wilayah berpenduduk, kata dia. (Ron/*)