SUKABUMI – Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT) RI, Ahmad Riza Patria, mengajak para sarjana Universitas Madani Nusantara (UMN) Sukabumi ikut mengambil peran dalam pembangunan desa.
Menurutnya, generasi muda, khususnya lulusan perguruan tinggi, memiliki potensi besar untuk menghadirkan inovasi, gagasan, dan solusi bagi kemajuan masyarakat perdesaan di era digital.
Ajakan tersebut disampaikan Ahmad Riza saat menghadiri Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana dan Pascasarjana UMN di Gedung Anton Soedjarwo, Setukpa Lemdiklat Polri, Sabtu (31/10/2026). Dalam kesempatan itu, sebanyak 673 mahasiswa resmi diwisuda.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Riza hadir sebagai pembicara utama atau keynote speaker. Ia mengapresiasi UMN yang telah meluluskan 673 mahasiswa dalam prosesi wisuda tersebut.
Ahmad Riza berharap para lulusan UMN dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, memasuki dunia kerja, sekaligus terlibat aktif dalam mendorong kemajuan masyarakat perdesaan.
Menurutnya, pembangunan desa bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan akademisi dan mahasiswa.
Ia menjelaskan, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal mendorong semangat kolaborasi melalui program yang mengajak berbagai kalangan untuk kembali peduli dan berkontribusi membangun desa.
“Kembali ke desa bukan berarti yang tinggal di kota harus pindah dan menetap di desa. Namun, bagaimana kita peduli terhadap desa dan bergerak bersama membangun desa,” ujarnya.
Ahmad Riza menilai perkembangan teknologi digital saat ini membuka banyak peluang bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam pembangunan perdesaan.
Mahasiswa dapat mengambil peran melalui penyusunan konsep, ide, gagasan, pengembangan konten digital, hingga berbagai inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa.
Ia juga mengaitkan ajakan tersebut dengan visi pembangunan nasional yang menempatkan desa sebagai salah satu titik penting pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Menurutnya, berbagai program pemerintah dirancang untuk meningkatkan produktivitas, membuka lapangan pekerjaan, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta memperbaiki kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah perdesaan.
Sejumlah program yang disorot di antaranya Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, Kampung Nelayan Merah Putih, Sekolah Rakyat, serta kebijakan penyerapan hasil pertanian.
Ahmad Riza mencontohkan kebijakan pembelian gabah dengan harga Rp6.500 per kilogram sebagai salah satu upaya pemerintah menjaga hasil produksi petani. Kebijakan tersebut diharapkan mendorong semangat petani untuk terus meningkatkan produksi pertanian.
“Semua program tersebut dalam rangka membangun bangsa ke depan, khususnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” katanya.
Lebih lanjut, Ahmad Riza mengungkapkan bahwa tantangan pembangunan desa masih cukup besar. Berdasarkan data yang disampaikannya, dari total 75.256 desa di Indonesia, masih terdapat lebih dari 4.600 desa tertinggal dan lebih dari 4.600 desa sangat tertinggal.
Wilayah Papua menjadi salah satu kawasan yang membutuhkan perhatian lebih dalam percepatan pembangunan. Dari total desa di Indonesia, sebanyak 7.737 desa berada di Papua dan sebagian besar masih menghadapi tantangan pembangunan.
Menurutnya, pemerintah bersama kementerian dan lembaga terkait terus mendorong percepatan pembangunan, termasuk memperhatikan keterbatasan akses masyarakat desa dalam memasarkan hasil pertanian dan mengembangkan potensi ekonomi lokal.
Karena itu, dukungan berbagai pihak diperlukan agar potensi desa dapat berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Ia pun kembali mengajak mahasiswa UMN untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan solusi bagi persoalan di tengah masyarakat.
“Mahasiswa harus peduli desa dan ikut membangun desa. Banyak sekali yang bisa dikerjakan mahasiswa, mulai dari menyiapkan konsep, ide, gagasan, membangun konten, hingga berbagai program lainnya,” pungkasnya. (wdy)



