Artikel

Sakit: Jalan Sunyi Kesadaran

×

Sakit: Jalan Sunyi Kesadaran

Sebarkan artikel ini

SEHAT itu seperti listrik. Kita baru sadar betapa berharganya ketika lampu tiba-tiba padam. Begitu juga sakit. Ia datang diam-diam, lalu membuat kita menyesal: kenapa dulu tidak menjaga diri?

Pandemi korona sudah lama mengajarkan kita disiplin. Masker, cuci tangan, jaga jarak. Tapi apa yang terjadi? Banyak yang masih keluyuran tanpa masker. Seakan-akan aturan itu hanya hiasan. Fenomena apa ini? Apakah masyarakat kita sedang “sakit”—bukan sakit badan, tapi sakit disiplin?

Padahal, sakit itu sendiri bukan musibah. Rasulullah sudah mengingatkan: sakit bisa jadi penghapus dosa. Bisa jadi tanda sayang Allah. Bisa jadi panggilan agar kita kembali kepada-Nya. Tapi masyarakat justru menjadikan orang sakit sebagai terdakwa. Seolah-olah penyakit itu aib.

Saya jadi teringat, sakit itu seperti alarm. Ia berbunyi agar kita sadar: tubuh ini lemah, hidup ini sementara. Ada tiga hikmah yang sering saya renungkan. Pertama, sakit itu nasihat. Kedua, sakit itu tanda cinta. Ketiga, sakit itu panggilan.

Dan jangan lupa, sakit juga bisa jadi adzab. Agar kita berhenti sombong. Agar kita kembali ke jalan yang benar. Tapi di sisi lain, sakit juga bisa mengangkat derajat. Bahkan sekadar tertusuk duri pun bisa jadi penghapus dosa.

Saya sering melihat, orang yang sakit justru lebih jujur pada dirinya sendiri. Ia mulai menghitung kesalahan, mulai menyesali kelalaian, mulai berdoa lebih khusyuk. Sakit membuat kita berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, lalu menoleh ke arah yang selama ini kita abaikan: ke langit.

Ada pula yang menganggap sakit sebagai wasilah kebaikan. Rasulullah menegaskan: barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Dia menimpakan musibah kepadanya. Artinya, sakit bukan sekadar ujian, tapi juga tiket menuju derajat yang lebih tinggi.

Dan jangan lupa, sakit itu guru yang paling jujur. Ia mengajarkan kita arti ikhtiar. Bahwa berobat itu wajib. Bahwa menjaga pola makan itu penting. Bahwa berhenti sebelum kenyang itu bukan sekadar nasihat klasik, melainkan resep kesehatan yang paling sederhana.

Tidak mudah memang memaknai sakit sebagai sesuatu yang indah. Kecuali bagi mereka yang hatinya terbuka. Yang jelas, sakit tetap harus diobati. Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan obatnya. Maka, selagi sehat, jagalah. Makanlah setelah lapar, berhentilah sebelum kenyang. Dan yang lebih penting: jaga hati, jaga pikiran. Karena sehat sejati bukan hanya soal tubuh, tapi juga soal jiwa.

Sakit itu bukan sekadar rasa perih. Ia adalah surat cinta dari Allah. Surat yang kadang kita benci, tapi justru menyelamatkan kita dari kesombongan. Maka, jangan hanya mengeluh ketika sakit. Belajarlah darinya. Karena bisa jadi, sakitlah yang membuat kita benar-benar sehat.(*)

Artikel

ADA yang lebih menakutkan dari sekadar tamparan fisik:…

Artikel

TIGA Itu bukan sekadar angka. Itu adalah rentang…