Pendidikan

Siswa SMA IT Adzkia Sukabumi, Ciptakan Teleskop dari Lensa Bekas Mesin Fotokopi

×

Siswa SMA IT Adzkia Sukabumi, Ciptakan Teleskop dari Lensa Bekas Mesin Fotokopi

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI – Kreativitas siswa SMA IT Adzkia Sukabumi kembali terlihat dalam sidang terbuka Karya Tulis Ilmiah (KTI) tahunan. Salah satu karya yang menarik perhatian ialah teleskop refraktor buatan Zahid Ismail, yang memanfaatkan lensa bekas mesin fotokopi dan komponen hasil cetak 3D.

Karya tersebut menjadi bukti bahwa penelitian di sekolah tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga mendorong siswa menghasilkan inovasi teknologi yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Sidang terbuka KTI merupakan agenda rutin SMA IT Adzkia yang wajib diikuti seluruh siswa kelas XII sebagai salah satu syarat kelulusan. Dari rangkaian sidang tertutup sebelumnya, sebanyak 10 siswa terbaik terpilih untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam sidang terbuka.

Dewan penguji terdiri atas jajaran manajemen SIT Adzkia, pimpinan SMA IT Adzkia, serta Pengawas Pembina KCD V, Dewi Andrianie.

Baca juga :  Hafidz 30 Juz, Siswa SMA IT Adzkia Sukabumi Lolos Unpad Jalur Prestasi Qur’an

Kepala SMA IT Adzkia, Arif Gunawan mengapresiasi keberanian para siswa dalam melakukan penelitian, bereksperimen, dan menghadirkan gagasan kreatif melalui KTI.

“Apresiasi setinggi-tingginya untuk siswa yang telah berani bereksperimen, melakukan proses penelitian, serta menghadirkan gagasan kreatif dalam KTI. Inilah semangat belajar yang ingin kita tumbuhkan: tidak hanya mampu memahami teori, tetapi juga berani mencoba, mencipta, dan menghasilkan solusi nyata,” ungkapnya.

Dalam penelitiannya, Zahid mengangkat judul Rancang Bangun dan Uji Kinerja Teleskop Refraktor Menggunakan Lensa Objektif Bekas Mesin Fotokopi dan Komponen Cetak 3D.

Ia merancang teleskop refraktor dengan memanfaatkan lensa objektif bekas mesin fotokopi sebagai komponen optik utama. Sementara itu, bagian mekanis, seperti fokuser dan dudukan, dirancang menggunakan perangkat lunak Autodesk Fusion 360, kemudian dibuat melalui teknologi 3D printing.

Hasil pengujian menunjukkan teleskop tersebut memiliki panjang fokus rata-rata 450,33 milimeter. Dengan menggunakan eyepiece 10 milimeter, teleskop mampu menghasilkan perbesaran sekitar 45 kali untuk mengamati objek darat maupun objek langit.

Zahid juga menguji kemampuan resolusi teleskop menggunakan pola USAF 1951 pada jarak 10, 20, dan 30 meter. Hasil pengujian masing-masing mencapai 5,04 lp/mm, 4,49 lp/mm, dan 3,56 lp/mm. Pengujian ini digunakan untuk mengetahui kemampuan teleskop dalam membedakan detail objek pada berbagai jarak pengamatan.

Tak berhenti pada pembuatan teleskop, Zahid turut mengembangkan dudukan ekuatorial terkomputerisasi berbasis ESP32. Sistem tersebut dirancang untuk membantu mengarahkan teleskop sekaligus melakukan pelacakan objek langit secara otomatis. Komponen dudukannya juga memanfaatkan teknologi 3D printing.

Penelitian Zahid tidak hanya menonjolkan inovasi teknologi, tetapi juga pemanfaatan kembali komponen bekas menjadi alat yang fungsional. Perpaduan optik, desain tiga dimensi, dan sistem elektronik tersebut membuka peluang pengembangan alat astronomi dengan pendekatan yang lebih kreatif.

Sebagai bentuk berbagi pengetahuan, Zahid mengunggah berkas model 3D teleskop yang dikembangkannya secara open source melalui platform Thingiverse. Berkas tersebut dapat menjadi referensi bagi orang lain yang ingin mereplikasi maupun mengembangkan inovasi serupa.

Desain tersebut dapat diakses melalui tautan: https://www.thingiverse.com/thing:7408515.Arif Gunawan berharap, karya yang dihasilkan para siswa dapat menjadi langkah awal dalam membentuk generasi pembelajar yang kreatif, inovatif, mampu memecahkan masalah, serta tidak takut mencoba hal baru. (wdy)