JAKARTA — Wacana dwi kewarganegaraan terbatas yang digulirkan Presiden Prabowo Subianto pada Agustus 2026 membuka percakapan baru tentang potensi diaspora Indonesia. Jika aturan ini benar-benar diterapkan secara selektif, dunia olahraga—khususnya sepak bola—menjadi salah satu sektor yang paling menarik untuk melihat dampaknya.
Dalam skenario hipotetis, sejumlah nama pemain keturunan muncul sebagai gambaran betapa luasnya peluang yang bisa terbuka. Dari Kayne van Oevelen, kiper muda bertinggi hampir dua meter, hingga Mitchell Baker, striker yang langsung mencetak hat-trick pada debutnya bersama Timnas Indonesia di Piala AFF 2026.
Di lini belakang, publik sudah mengenal sosok Jay Idzes, kapten Timnas yang kini bermain di Serie A bersama Sassuolo. Ada pula Pascal Struijk, bek Brighton yang berpengalaman di Premier League, serta Calvin Verdonk yang memperkuat LOSC Lille dan berkesempatan tampil di Liga Champions.
Nama-nama lain seperti Laurin Ulrich (SC Paderborn), Demiane Agustien (Arsenal), dan Julian Oerip menambah daftar talenta muda yang bisa menjadi investasi jangka panjang. Sementara Miliano Jonathans dan Ole Romeny sudah lebih dulu mengenakan seragam Garuda, memberi warna baru di lini serang.
Meski daftar ini bukan komposisi resmi Timnas Indonesia, wacana dwi kewarganegaraan terbatas memberi ruang imajinasi tentang bagaimana skuad Garuda bisa bertabur bintang diaspora. Tentu, regulasi FIFA dan aturan naturalisasi tetap menjadi pagar yang harus diperhatikan. Namun, jika jalur tersebut suatu hari benar-benar terbuka, kedalaman skuad Indonesia akan semakin menarik untuk dibayangkan.(*)











