Catatan Hazairin Sitepu

Pendaratan Pertama

×

Pendaratan Pertama

Sebarkan artikel ini

 Oleh Hazairin Sitepu

Selasa, 8 September 2026, suasana Bandara Soekarno-Hatta terasa berbeda. Dari biasanya 15 penerbangan menuju Bandar Lampung, hari itu hanya ada empat.

Saya beruntung mendapat kursi 7A di Batik Air ID 6710, penerbangan pukul 11.10. Pesawat Airbus A320 berkapasitas 156 kursi itu hanya terisi 70 penumpang.

Penerbangan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ia menjadi penerbangan perdana menuju Radin Inten II setelah tiga hari penuh bandara ditutup total.

Erupsi Anak Krakatau sejak Sabtu pagi telah melumpuhkan enam bandara sekaligus, termasuk Soekarno-Hatta dan Radin Inten II. Gunung api di Selat Sunda itu menyemburkan abu pekat hingga 50 ribu kaki, menutup langit Banten, Jawa Barat, dan Lampung.

Awalnya, saya hanya iseng mengecek aplikasi penjualan tiket. Ternyata penerbangan ke Lampung sudah kembali dibuka. Tanpa pikir panjang, saya langsung membeli tiket, check-in via aplikasi BookCabin, dan berangkat dari Bogor pukul 08.15.

Perjalanan darat lancar, dan pukul 09.35 saya sudah tiba di Terminal 2 Soekarno-Hatta.

Biasanya, penerbangan ke Lampung hanya memakan waktu 30 menit. Kali ini, durasi mencapai 47 menit. Jalur penerbangan tampaknya dibelokkan ke utara untuk menghindari kawasan Anak Krakatau.

Dari jendela pesawat, saya melihat lapisan awan bawah berwarna cokelat, sementara lapisan atas tampak putih kelabu—jejak abu vulkanik yang masih menggantung.(hs)