SLEMAN — Gubernur D.I. Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, mengingatkan para lulusan Politeknik Agraria STPN agar tidak hanya andal secara teknis dalam pemetaan dan teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial terhadap nilai sejarah serta kebudayaan masyarakat di balik setiap jengkal tanah.
Pesan tersebut disampaikan Sri Sultan dalam amanat tertulisnya yang dibacakan Sekretaris Daerah Provinsi DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, saat prosesi wisuda Politeknik Agraria STPN di Sleman, D.I. Yogyakarta, Sabtu (5/9).
“Indonesia membutuhkan insan pertanahan yang mampu membaca peta sekaligus memahami manusia di dalamnya. Saudara perlu cakap teknologi, tetapi tetap bijak menimbang rasa keadilan dan arif membaca sejarah masyarakat,” pangkas Sri Sultan.
Sultan menegaskan bahwa tanah di Nusantara memiliki keanekaragaman nilai sosial-spiritual. Ia mencontohkan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana di Jawa, Harta Pusaka Tinggi di Minangkabau, sistem Subak di Bali, hingga hak ulayat di Papua dan Maluku. Keragaman ini menuntut aparat pertanahan untuk tidak sekadar kaku mematok aturan legal-formal.
“Di sinilah ilmu pertanahan bekerja: di antara ukuran dan makna, antara peta dan manusia, serta antara sertipikat dan martabat,” tegasnya.
Sultan meminta para calon insan pertanahan menyadari bahwa di balik lembaran berkas administrasi yang mereka pegang kelak, ada harapan dan martabat hidup masyarakat yang dipertaruhkan. (Den)

