SUKABUMI – Di tengah derasnya arus budaya digital yang akrab dengan kehidupan remaja, puluhan siswa SMP Negeri 9 Kota Sukabumi diajak menengok kembali akar budaya yang tumbuh di tanah kelahirannya. Bukan lewat buku pelajaran atau layar gawai, melainkan melalui pengenalan langsung terhadap Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kota Sukabumi yang dibawa Museum Prabu Siliwangi ke ruang kelas.
Suasana belajar pun berubah menjadi ruang mengenal jati diri daerah. Para siswa diperkenalkan pada kekayaan budaya yang selama ini mungkin hanya mereka dengar sepintas, mulai dari permainan tradisional Bola Seuneu hingga seni bela diri Pencak Silat Golok Kala Petok, yang telah ditetapkan sebagai WBTB.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian sosialisasi Museum Prabu Siliwangi yang menargetkan 35 sekolah di Kota Sukabumi, dengan SMPN 9 menjadi sekolah ke-25 yang disambangi.
Perwakilan Museum Prabu Siliwangi, Irwan, menegaskan pentingnya pengenalan budaya kepada pelajar agar warisan leluhur tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi tetap hidup melalui generasi penerus.
“Tujuan utama kami adalah mengenalkan Warisan Budaya Tak Benda Kota Sukabumi kepada generasi muda. Mereka harus mengetahui bahwa daerahnya memiliki kekayaan budaya yang patut dibanggakan dan dijaga bersama,” ujarnya.
Irwan menambahkan, pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan identitas daerah, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif. Salah satunya melalui keberadaan Golok Kala Petok yang kini mendorong tumbuhnya para perajin golok lokal.
“Ke depan kami ingin sosialisasi ini tidak hanya menyasar sekolah, tetapi juga masyarakat luas. Harapannya, budaya lokal semakin dikenal dan mampu memberi dampak ekonomi melalui pengembangan produk kreatif berbasis budaya,” tambahnya.
Kepala SMP Negeri 9 Kota Sukabumi, Filah Saiful, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab membentuk karakter peserta didik, termasuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah sejak dini.
“Kami mengapresiasi Museum Prabu Siliwangi yang telah berbagi pengetahuan kepada para siswa. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut sehingga wawasan anak-anak tentang budaya lokal semakin luas dan mereka memiliki rasa bangga untuk melestarikannya,” kata Filah.
Di balik setiap permainan tradisional, gerakan silat, hingga karya budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, tersimpan nilai-nilai kehidupan yang tidak lekang oleh zaman. Melalui ruang kelas sederhana, Museum Prabu Siliwangi berupaya memastikan warisan itu tetap menemukan pewarisnya. Sebab menjaga budaya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan menyiapkan masa depan agar identitas Kota Sukabumi tetap hidup di hati generasi mudanya.(ris/d)





