SUKABUMI- Wajah cantiknya pernah menghiasi jutaan pasang mata di bioskop-bioskop Tanah Air sepanjang era 1970-an hingga 1990-an.
Lahir di Bukit Tinggi pada 14 Juli 1958, Eva Yanthi Arnaz merupakan ikon dan bintang kejayaan perfilman Indonesia pada masanya.
Namun, gemerlap lampu panggung hiburan kini telah lama ia tinggalkan. Dalam balutan hijab dan ketenangan jiwa, wanita yang akrab disapa Bunda Eva tersebut menapaki babak baru kehidupan yang jauh lebih bermakna, yakni hijrah di jalan ridha Ilahi.
Di usianya saat ini, wanita yang dikenal dengan nama Eva Arnaz ini, memilih mendedikasikan sebagian hartanya sebagai ladang amal jariyah yang tak putus.
Ia resmi mewakafkan sebidang tanah seluas 2.000 meter persegi di Perbawati, Warnasari, Kabupaten Sukabumi, untuk kepentingan umat.
Lahan tersebut sejatinya telah ia miliki sejak tahun 1987. Sempat tertunda pemanfaatannya karena urusan administrasi, kini setelah melalui verifikasi Badan Pertanahan Nasional (BPN), kejelasan hukum tanah itu sah menjadi miliknya dan diwakafkan sepenuhnya.
Ditemui di Wisma Bharata, Jalan Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Minggu (25/10), Eva bertutur penuh ketulusan mengenai niat mulianya.
Dari total lahan tersebut, seluas 500 meter persegi diikrarkan khusus untuk pembangunan sarana ibadah berupa masjid dan rumah tahfiz Al-Qur’an.
“Saya yang membayar PBB-nya sejak dulu, saya yang merawatnya. Sekarang, Bismillah ini bukan milik saya lagi. Ini milik Allah, untuk umat,” ucap Hj. Eva dengan mata yang menyiratkan ketulusan mendalam.
Mewujudkan niat mulia ini tentu tidak berjalan seorang diri. Di sampingnya, berdiri tegar rekan-rekan yang mendukung penuh langkah dakwah tersebut, di antaranya Kompol (Purn) Sunarya Ishak, Muhammad Saleh Arip, serta Samer Amin selaku pembina masjid.
Sinergi hangat turut terjalin erat dengan berbagai tokoh, termasuk mantan Bupati Sukabumi Marwan Hamami serta pimpinan pondok pesantren, di antaranya KH. Ece Supriatna Mubarok dari Al Matuq dan Yaspida. Bunda Eva juga kini aktif bergabung dalam komunitas Sukabumi Mengaji serta menggandeng sejumlah majelis taklim di Jakarta.
“Semoga ke depan, Insya Allah untuk dakwahnya akan bersatu dengan Sukabumi Mengaji,” ungkapnya.
Bagi Eva, apa yang ia lakukan hari ini bukanlah kebanggaan duniawi, melainkan bentuk pertanggungjawaban atas titipan Sang Pencipta.
Ia memegang teguh satu pesan bermakna, “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi sesama.”
Saat ini, proses pembangunan fondasi di atas lahan wakaf tersebut telah mulai dikerjakan. Doa dan harapan besar disematkan agar masjid dan rumah tahfiz yang berdiri kelak mampu melahirkan generasi penjaga Al-Qur’an yang berguna bagi bangsa dan agama.
Kompol (Purn) Sunarya Ishak yang turut mendampingi langkah tersebut menyampaikan apresiasi penuh atas dedikasi sang mantan artis legendaris.
“Kami mendukung sekali kegiatan yang dilaksanakan oleh Bunda Eva, yaitu membangun masjid. Ini sangat bermanfaat dan berkah bagi semua umat yang akan menggunakannya ke depan,” ujar Sunarya.
Ia menyadari merintis sebuah rumah ibadah tidaklah mudah, namun ia bersama tim dan masyarakat berkomitmen untuk terus berjuang hingga tuntas.
Jejak langkah Eva Arnaz dari panggung hiburan gemerlap menuju keteduhan rumah Allah menjadi inspirasi nyata bahwa keindahan hidup sejati bukanlah tentang seberapa banyak pujian yang diterima, melainkan seberapa besar jejak kebaikan yang ditinggalkan untuk sesama. (why)