Kabupaten Sukabumi

Anjlok 70 Persen Gegara Pohon Aren Langka

×

Anjlok 70 Persen Gegara Pohon Aren Langka

Sebarkan artikel ini

Industri pengolahan tepung aci aren skala rumahan di Kabupaten Sukabumi kini berada di ambang krisis. Kelangkaan bahan baku batang pohon aren dari kawasan hutan membuat volume produksi tepung olahan anjlok drastis.

KONDISI ini mengancam keberlangsungan usaha olahan pangan yang menjadi bahan baku utama jajanan populer seperti bakso dan cilok. Salah seorang pengusaha pabrik aci di Kampung Cipeundeuy, Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, Maman. Kepada Radar Sukabumi, dia mengatakan, penurunan produksi aci di tempatnya telah mencapai angka yang sangat signifikan.

“Penurunan produksi saat ini mencapai sekitar 70 persen,” ujar Maman saat ditemui Radar Sukabumi di lokasi penjemuran aci miliknya, di Kampung Cipeundeuy pada Selasa (27/10).

Menurut Maman, dalam kondisi normal dan ideal, pabriknya mampu memproduksi hingga 2 ton tepung aci setiap pekan. Namun, akibat krisis bahan baku, kini hasilnya menyusut jauh dan hanya mampu tidak lebih dari sekitar 1 ton. Penurunan ini dirasakan sangat berat bagi kelangsungan operasional pabriknya.

Penyebab utama dari anjloknya produksi tepung aci aren ini adalah sulitnya mendapatkan pohon aren siap tebang. Selama ini, Maman dan para perajin aci di wilayah Kecamatan Gunungguruh, hanya mengandalkan pasokan kayu pohon aren yang diambil langsung dari kawasan hutan di wilayah Sukabumi Selatan, khususnya daerah Jampang. Namun, masifnya penebangan pohon aren liar tanpa diimbangi penanaman kembali (reboisasi) membuat populasi pohon aren di hutan-hutan wilayah Jampang kian tergerus dan langka.

“Bahan bakunya didapat dari hutan di wilayah Jampang. Sekarang sudah sangat susah untuk mendapatkan pohon aren karena banyak yang menebangnya,” tutur Maman.

Proses pengolahan tepung aren di Kampung Cipeundeuy terfokus murni pada pemrosesan dari batang pohon aren menjadi tepung kering. Tepung aren olahan ini memiliki peran penting dalam rantai pasok industri kuliner lokal, terutama sebagai bahan pengenyal alami untuk pembuatan bakso dan cilok.

Meski ancaman kelangkaan bahan baku dan penurunan produksi terus membayangi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ini, belum ada intervensi maupun solusi konkret dari pemerintah daerah.

Maman mengaku sejauh ini pihaknya belum pernah menerima bantuan atau program pendampingan dari pemerintah terkait penyelamatan pasokan bahan baku maupun pembinaan usaha. “Belum ada perhatian atau bantuan dari pemerintah sejauh ini,” tandasnya.

Para perajin aci di Kampung Cipeundeuy berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, baik dalam hal tata kelola kelestarian pohon aren di wilayah hutan Jampang maupun bantuan stimulus bagi perajin lokal agar industri olahan aci tradisional ini tetap bertahan. (Den)