SUKABUMI – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Kabupaten Sukabumi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, sejak Juli hingga awal Agustus 2026, total area yang hangus dilalap api telah menembus 30 hektare.
Manager Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menjelaskan bahwa maraknya karhutla dipicu oleh puncak musim kemarau yang disertai angin kencang. “Hingga saat ini, akumulasi luas lahan yang terbakar di wilayah Kabupaten Sukabumi sudah mencapai kurang lebih 30 hektare,” ujarnya, Rabu (12/8).
Sebaran titik api terdeteksi di belasan kecamatan, mulai dari Cireunghas, Cibadak, Sukalarang, Simpenan, Ciemas, hingga Jampangtengah. Insiden terbesar meluluhlantakkan belasan hektare kawasan hutan milik Perum Perhutani di wilayah Ciemas dan Sukalarang.
Daeng menekankan, meski kondisi vegetasi kering mempercepat penyebaran api, mayoritas pemicu utama berasal dari ulah manusia. “Faktor cuaca memang berpengaruh, namun sebagian besar insiden dipicu aktivitas manusia, seperti pembakaran lahan secara sembarangan,” tandasnya.
Praktik berisiko yang kerap dijumpai di lapangan meliputi pembakaran sampah tanpa pengawasan, pembukaan lahan dengan cara dibakar, hingga pelemparan puntung rokok di area semak kering. “Awalnya sering kali dari pembakaran sampah atau rumput liar yang ditinggal begitu saja. Karena angin kencang, api langsung membesar dan merambat cepat,” tambah Daeng.











